![]() |
| Zulfikar Djamaluddin |
“Bagaimana mungkin kita bicra soal perdamaian sementara kesejahteraan belum ada. Nggak muluk-muluk lah, minimal tak ada yang jadi pengangguran. Tapi nyatanya penurunan angka pengangguran tak melebihi angka 1 persen di Aceh,” ujar Zulfikar yang dimintai tanggapannya, Selasa (12/8/2014).
Harus diakui, perdamaian dalam bentuk penghentian kekerasan bersenjata merupakan hal paling utama bagi masyarakat. Namun kesinambungan perdamaian itu harus ditunjang oleh peningkatan kualitas kehidupan masyarakat, khususnya dari sektor perekonomian. Selama ini, hal tersebut belum optimal. Pemerintah Aceh dinilai masih sibuk dengan remeh-temeh symbol-simbol perdamaian itu sendiri.
Dia berharap, Pemerintah Aceh benar-benar dapat menggerakkan program perdamaian yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
ISIS Tak Berpengaruh
Dalam kesempatan yang sama, Zulfikar menambahkan, gembar-gemboro jaringan ISIS di Aceh takkan mempengaruhi stabilitas perdamaian di Aceh. Sejarha membuktikan, garis konflik di Aceh tak berhubungan dengan perang ideology.
“Semuanya berkaitan dengan kedaulatan atas Aceh sendiri dan politik. Seperti Perang Cumbok saja bukan juga soal ideology. Itu karena kepentingan politik. Jadi ISIS nggak akan merusak perdamaian. Jangan kuatir,” jelasnya.
Dikatakannya lagi, harusnya semua elemen masyarakat tak perlu merespon propaganda-propaganda murahan ISIS di Aceh. respon masyarakat terhadap isu itu hanya akan membuang energy. “Lebih baik mikir yang lain lah. Ta jak u blang leubeh but (Pergi ke sawah aja, banyak kerjaannya),” tegasnya sembari tersenyum. [tgj]

EmoticonEmoticon