Showing posts with label Gayo. Show all posts
Showing posts with label Gayo. Show all posts

Permintaan Paspor di Imigrasi Takengon Meningkat

ACEHXPress.com | Permintaan pembuatan paspor di Imigrasi Takengon dalam beberapa bulan terakhir, mengalami peningkatan dengan rata-rata mencapai 120 paspor setiap bulannya, kata Kepala Kantor Imigrasi setempat, Imam Santoso.

“Sebelumnya kita melayani pembuatan paspor antara 30 sampai 40 buah setiap bulannya, namun kini mengalami peningkatan drastis yang mencapai 120 paspor perbulan,” katanya di Takengon, Kamis.

Hal itu disampaikan disela-sela kunjungan Bupati Aceh Tengah Nasaruddin yang melihat langsung pelayanan yang diberikan Kantor Imigrasi Takengon kepada masyarakat di daerah tersebut.

Didampingi Kabag Humas dan Protokol Pemkab Aceh Tengah Mustafa Kamal, disebutkan juga pihaknya juga memberikan pelayanan berupa penanganan izin tinggal warga asing.

Sejak September 2013, Kantor Imigrasi Takengon telah menerbitkan sebanyak 662 paspor, dan 25 buat kartu izin tinggal terbatas (Kitas) bagi warga Asing di wilayah kerja imigrasi tersebut.

Imam juga menjelaskan, Imigrasi Takengon kini telah meningkatkan pelayanan pengurusan pasport sebagai salah satu tuntutan standar pelayanan kepada masyarakat. Saat ini, mengurus pembuatan paspor bisa selesai sehari, sementara sebelumnya mencapai tiga hari.

“Dulu warga yang ingin buat paspor terlebih dahulu harus memasukkan berkas, besoknya baru di foto, kemudian membayar administrasi, sehingga butuh beberapa hari,” katanya menjelaskan.

Sementara itu, Bupati Aceh Tangah Nasaruddin mengatakan warga yang akan mengurus paspor sangat terbantu dengan peningkatan pelayanan yang diberikan oleh Imigrasi Takengon.

Sebelumnya, warga Aceh Tengah yang akan mengurus paspor harus pergi ke Kota Lhokseumawe, sehingga membutuhkan waktu berhari-hari. Sekarang sangat terbantu, terutama jika ada keluarga yang sakit ingin berobat keluar negeri, maupun pengurusan paspor untuk kebutuhan berhaji maupun umroh. []

antaraaceh

Indahnya Aceh di Gayo Lues, Negeri Seribu Bukit

Taman Nasional Gunung Leuser
MENDENGAR Aceh Gayo Lues pasti belum banyak yang pernah mengunjungi daerah ini, saya pun termasuk asing mendengar Aceh Gayo Lues ini. Kebanyakan wisatawan berkunjung ke Aceh memang sebagian besar ke Banda Aceh dan Pulau Weh, padahal banyak sekali potensi pariwisata di bumi Aceh yang belum terpublikasikan. Salah satunya adalah Aceh Gayo Lues ini.

Saya sangat beruntung tiba-tiba dihubungi oleh Pak Rifky dan Pak Khairul dari Indecon melalui Program Pengembangan Ekowisata Gunung Leuser dan didukung juga oleh IFACS untuk mengenalkan wisata di Gayo Lues.

Untuk menuju ke Aceh Gayo Lues ini saya melalui perjalanan darat yang cukup panjang dari Kota Medan, Sumatera Utara. Rute jalan daratnya dari Medan, menuju Kabanjahe, Brastagi, Kutacane, Kedah dan tiba di Blangkejeren. Lama perjalanan kurang lebih 10 sampai dengan 11 jam, itu pun tergantung kondisi jalan yang biasanya kalau musim hujan jalan suka tertimbun longsor.

Namun buat teman-teman yang ingin ke sini tanpa menempuh perjalanan darat yang panjang tenang saja kok, mulai 1 Januari 2015 dikabarkan Susi Air dan pesawat perintis lainnya akan membuka rute dari Medan ke Blangkejeren ini. Waktu tempuh menggunakan pesawat paling hanya 1 jam lebih.

BARRY KUSUMABlangkejeren di Aceh Tenggara.
Blangkejeren di Kabupaten Aceh Gayo Lues dahulu pernah jaya akan destinasi wisata yang kaya akan alam dan satwanya sebelum daerah operasi militer atau DOM diberlakukan di Aceh. Blangkejeren, Ketambe dan Kedah merupakan primadona bagi turis asing yang ingin menikmati keindahan alam dan satwa di Taman Nasional Gunung Leuser.

Pesona Aceh Gayo Lues ini semakin memudar sehingga mati suri pada saat DOM diberlakukan. Namun saat ini Pesona Aceh Gayo Lues semakin bangkit dan mulai banyak wisatawan yang ingin mencari adventure datang ke sini.

Pada saat saya datang ke sini, destinasi ini sangatlah aman. Faktor keamanan yang banyak ditakuti oleh wisatawan akan adanya GAM sama sekali isu yang tidak mendasar, selama saya mengeksplor Aceh Tenggara sampai blusukan masuk ke hutan juga sangat aman.

Memang untuk keluar dari Aceh Gayo Lues ini penjagaan dari pihak kepolisian lapis dua. Penjagaan mereka sangat ketat bukan karena adanya gangguan keamanan nasional, tetapi mereka mencari penyelundup narkoba karena Aceh Gayo Lues ini sangat subur, tanaman apa saja yang ditanam di sini pasti tumbuh subur.

Maka tidak heran jika konon Aceh Gayo Lues ini memiliki ganja terbaik di dunia. Khusus buat teman-teman yang ke sini, jangan sekali-kali mencoba ya. Pasalnya bagi siapa saja yang tertangkap dan mencoba narkoba hukumannya sangat berat.

BARRY KUSUMAOrangutan sumatera di Ketambe, Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh.
Kembali ke pariwisata di Aceh Tenggara ini, karena alamnya sangat terjaga tidak heran jika kita bisa menjumpai dengan mudah satwa dilindungi seperti orangutan sumatera, Black Gibbon, dan banyak primata lainnya. Bagi pencinta trekking, Ketambe merupakan gerbang paling dekat untuktrekking menuju ke Taman Nasional Gunung Leuser. Konon keindahan Taman Nasional Gunung Leuser ini setara dengan Gunung Rinjani. Saya belum kesampaian untuk trekking ke Gunung Leuser karena medan yang cukup berat dan panjang. Idealnya untuk trekking bisa memakan paling cepat waktu sampai 2 minggu lebih.

Ada beberapa destinasi di Aceh Gayo Lues yang menarik untuk dikunjungi, di mana dalam waktu seminggu kita bisa menikmati alam yang masih perawan. Beberapa destinasi tersebut akan saya jelaskan di bawah ini.

1. Kedah

Merupakan gerbang paling dekat menuju Taman Nasional Gunung Leuser. Kedah yang merupakan rain forest yang masih sangat terjaga keasliannya, karena letaknya yang dekat dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Di sini kalau beruntung pada saat trekking, Anda bisa menjumpai aneka satwa seperti orangutan, harimau, macan, black gibbon, siamang, kera liar, spesies burung langka dan masih banyak lagi. Kalau beruntung hal ini akan menjadi pengalaman seru saat Anda berjumpa dengan salah satu satwa tersebut saat menjelajahi hutannya.

BARRY KUSUMABurung liar di Ketambe, Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh.
Ketika saya trekkingmenyusuri rain forestdi Kedah, hanya berjalan selama 1 jam perjalanan saja saya menjumpai orangutan yang sedang membangun sarangnya. Beruntung saya membawa lensa tele sehingga bisa melihat dengan jelas orangutan yang masih muda dan ternyata mereka sangat pemalu pada saat berjumpa manusia.

Dari kejauhan saya hanya mendengar suara black gibbon sejenis kera hitam yang besar. Sayang sekali mereka berada jauh di bukit lain sehingga kami tidak ada kesempatan untuk melihat mereka dan hanya mendengar suaranya saja. Ketika menelusuri jalan setapak demi setapak di tengah hutan, sesekali kami menjumpai siamang dan lutung. Jika ingin maksimal menikmati satwa liar di Kedah ini memang idealnya 2 sampai 3 hari di sini.

Ketika kami mengeksplor Kedah beruntung kami ditemani oleh kuncenguide yang sangat berpengalaman puluhan tahun yaitu Mr Jali. Beliau orang Aceh Gayo asli lho. Kenapa dipanggil "mister" karena teman-teman bulenya memanggil "mister" dan beliau sangat direkomendasikan oleh Lonely Planet.

Selain itu Mr Jali yang hobinya ketawa terus ini punya eco lodge di kawasan dalam hutan. Dari jalan utama ke eco lodge-nya ini memakan waktu hampir sejam trekking. Buat yang ingin mampir dan jalan jalan ke sini silakan hubungi nomor telepon Mr Jali di 081362291844.

2. Ketambe

Tempat ini masih di kawasan Aceh Gayo Lues. Yang membuat unik Ketambe adalah sangat berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Leuser dan juga tepian Sungai Alas. Dahulu Sungai Alas merupakan primadona bagi pencinta arung jeram atau rafting, karena grade di sungai ini bisa mencapai tingkat 3 bahkan jika musim hujan bisa berubah menjadi tingkat 4. Jadi sangat berbahaya jika tidak ditemani oleh para guide yang berpengalaman.

Di Ketambe ada banyak penginapan eco lodge di sini, yang terletak di pinggir jalan. Masing masing dari mereka menawarkan banyak paket wisataadventure mulai dari trekking ke Taman Nasional Gunung Leuser, rafting di Sungai Alas, bird watching, trekking di "rain forest" bahkan sampai night trekking. Bagi pencinta alam liar, saya sangat menyarankan untuk mencobarafting di Sungai Alas. Banyaknya jeram dan luasnya sungai membuat anda akan selalu ketagihan jika sudah terkena air sungainya.

BARRY KUSUMARafting di Sungai Alas, Kedah, Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh.
Dari beberapa tour operator yang direkomendasikan di sini. Kebetulan saya bersama Pak Johan. Beliau adalah sahabat Mr Jali juga. Penginapan eco lodge-nya juga sangat nyaman, apalagi kalau malam dingin dan langsung bisa mendengar suara air sungai karena kebetulan letak penginapannya dekat Sungai Alas. Buat yang ingin ke sini bisa menghubungi Pak Johan di 085270864580.

3. Taman Nasional Gunung Leuser

Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu taman nasional favorit para pencinta alam, karena alamnya yang masih alami dan Leuser ini merupakan  salah satu Kawasan Pelestarian Alam di Indonesia yang punya lahan seluas 1.094.692 hektar. Memang secara administrasi terletak di dua provinsi yaitu Aceh dan Sumatera Utara. Walaupun yang saya tahu untuk bisa trekking menuju Taman Nasional Gunung Leuser ini paling dekat dari Ketambe Aceh Gayo Lues.

Di taman nasional ini berdiam orangutan sumatera yang mengesankan. Gunung Leuser juga memiliki kekayaan buah-buahan tropis seperti mangga, rambutan, durian, alpukat, jeruk, pepaya, dan jambu biji.

Taman Nasional Gunung Leuser dan area di sekitarnya dikenal dengan nama Kawasan Ekosistem Leuser yang menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Ada sekitar 130 spesies dapat diidentifikasi di Taman Nasional Gunung Leuser yaitu: harimau sumatera, gajah, badak, siamang, kera, macan tutul, reptil, ikan, dan juga 325 spesies burung.

Taman Nasional Gunung Leuser memiliki puncak tertinggi 3.381 meter dan merupakan salah satu taman nasional terbesar dan paling beragam di Indonesia dengan luas 7.927 km² di ujung utara Sumatera. Ketika melintasinya akan tersaji pemandangan yang luar biasa. Para petualang sejati tidak akan kecewa ketika menjelajah taman ini.

BARRY KUSUMATari Saman Aceh Gayo Lues
Taman Nasional Gunung Leuser sendiri mengambil nama dari Gunung Leuser (3.404 mdpl) di Aceh. Taman nasionalnya meliputi ekosistem asli dari pantai sampai pegunungan tinggi yang diliputi hutan lebat khas hujan tropis. Taman nasional ini dikelola dengan sistem zonasi untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Taman Nasional Gunung Leuser mencakup lebih dari 100 kilometer Pegunungan Bukit Barisan, dikenal karena kondisinya yang curam, medan pegunungan yang hampir tidak dapat diakses. Ketinggiannya berkisar dari daerah pantai di Kluet (Aceh Selatan) yaitu 3.381 meter di atas Gunung Leuser (Aceh Tenggara).

Sungai Alas yang menakjubkan memotong taman ini menjadi bagian timur dan barat, di mana adrenalin Anda yang haus akan pemandangan hutan tropis menawan akan terpenuhi. Sesungguhnya petualangan ke Taman Nasional Gunung Leuser lebih dari sekadar petualangan besar ke kebun binatang. [kompas]

Terbukti Berjudi, Oknum Polisi Ini Dicambuk

Terpidana maisir (judi) melambaikan tangan ke arah penonton sebelum eksekusi hukuman cambuk di halaman Masjid Al-Makmur, Lampriek, Banda Aceh, Jumat (3/10). Kejaksaan Negeri Banda Aceh melakukan hukuman cambuk terhadap empat pelaku maisir. Keempat terpidana yang ditahan sejak pertengahan Agustus 2014 itu divonis majelis hakim Mahkamah Syariร•ah Banda Aceh bersalah melanggar Qanun Nomor 13 Tahun 2003 tentang perjudian. 
AcehXPress.coOknum anggota polisi, Andri Gunawan bin M Yusuf Syafi’i (33), mendapat hukuman (uqubat) tiga kali cambuk setelah dipotong masa tahanan. Ia dieksekusi cambuk bersama 9 terdakwa kasus maisir lainnya di depan Gedung Olahseni Kota Takengon, Senin (8/12/2014) pagi.
Selain disaksikan sejumlah anggota forum pimpinan daerah setempat, uqubat cambuk tersebut juga disaksikan ratusan masyarakat Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Eksekusi cambuk yang dilakukan oleh Kejari Takengon, merupakan yang ketiga kalinya sepanjang tahun 2014.
“Ini merupakan kali ketiga dilakukan hukuman cambuk bagi pelanggar syariat. Saya berharap kedepannya tidak ada lagi pelangaran yang sama,” kata Kejari Takengon, Dwi Aries Hidayat.
Sementara itu, uqubat cambuk bagi para pelaku maisir tersebut, berdasarkan putusan Mahkamah Syar’iah Takengon yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Dalam amar putusan hakim, ke 10 terdakwa kasus maisir tersebut, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana maisir. Rata-rata terdakwa mendapat uqubat cambuk sebanyak sembilan dan enam kali cambuk, namun dipotong masa tahanan selama 65 hari, sehingga hukuman dikurangi sebanyak tiga kali cambuk.
Para terdakwa maisir yang menjalani hukuman cambuk diantaranya, Ihsanul Putra bin Ahmad (43), mendapat hukuman cambuk sembilan kali, dipotong masa tahanan selama 65 hari, sehingga hanya mendapat sanksi enam kali cambukan. Selanjutnya, oknum anggota polisi, Andri Gunawan bin M Yusuf Syafi’i (33), mendapat hukuman tiga kali cambuk setelah dipotong masa tahanan. Berikutnya, Zuliadi bin Anwar (24), Najmuddin Sukri bin Selamat (44), Sarmiadi bin Abdul Wahab (38) dan Jama Trisna bin Anwar.
Pelaku maisir lainya, Herizal bin Amiruddin (34), Fauzi Taeb bin Taeb (44), Maidi bin Abdul Latif (33), dan Buge Kin Aulia bin Fauzi Bintang (31). Proses uqubat cambuk yang dilangsungkan di depan khalayak ramai itu, berlangsung lancar. Meskipun, sebagian besar terdakwa maisir hanya mendapat tiga kali cambukan, namun beberapa orang terdakwa di antaranya sempat meringis kesakitan ketika para algojo menghempaskan rotan ke tubuh para terdakwa. [Srm]

Mahasiswi Asal Takengon Buang Bayi di Toilet

Diduga dari hasil hubungan gelap,  seorang bayi laki-laki yang sudah tak bernyawa sengaja di buang oleh salah seorang mahasiswi asal Takengon berinisial KRM (20) di toilet rumah makan Desa Meurah Bate Iliek, Kecamatan Samalanga (6/12).

Dari informasi yang dihimpun, awalnya pelaku dari Takongon Aceh Tengah mengendarai mobil L300 dengan nomor polisi BL 1952 GB menuju Banda Aceh. di lokasi kejadian, pelaku melahirkan dan meninggalkan bayinya di dalam toilet tersebut.

Setelah mendengar kabar penenemuan bayi sopir L300, Lestari Tour  Sariman bersama sopir pendamping Hendrik curiga, dan mencium bau amis sehingga mereka melakukan pememeriksaan lantai mobil dan menemukan bercak darah di bawah kaki pelaku berinisialKRM Ketika dikonfirmasi Sariman mengatakan, tersangka berusaha menyuap dan menawarkan uang sejumlah Rp 2 juta,  agar tidak memberitahukan kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib. Namun, Sariman menolak dan tetap membawa tersangka ke Mapolsek Samalanga.

Kapolres Bireuen AKBP M Ali Kadhafi melalui Kapolsek Samalanga AKP Saleh Amri ketika di konfirmasi Rimba Raya membenarkan adanya kejadian pembuangan jasat bayi tersebut dan hingga saat ini, jenazah bayi berada di kamar manyat RSUD Fauziah Bireuen.

Lebih lanjut Saleh menyatakan, tersangka Pelakunya sedang dimintai keterangan. Oleh pihak penyelidik di polsek. Kepada media saleh menyampaikan, sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Diduga, gadis itu membuang bayi hasil hubungan gelap dengan pacarnya yang kini berada di Banda Aceh. Hingga berita ini di turunkan Kapolsek Samalanga mengaku masih mendalami kasus tersebut. [Rimba Raya]

Kategori

Kategori