Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

Reuni Mengharukan Wartawan Asing Setelah 10 Tahun Tsunami Aceh

Wartawan BBC Andrew Harding bertemu lagi dengan salah seorang anak korban tsunami Mawardah Priyanka.
ACEHXPress.com | Wartawan BBC Andrew Harding kembali ke Aceh setelah 10 tahun bencana tsunami dan bertemu lagi dengan salah seorang anak korban tsunami Mawardah Priyanka.

Sulit untuk mengenali Lhok Nga

Pohon-pohon telah tumbuh kembali. Saat dilihat dari jalan, desa kecil itu seperti tersembunyi di balik tirai tebal berwarna hijau.

Ketika kami menghentikan kendaraan di daerah pinggiran, saya berdiri di tepi jalan di atas bukit sembari mencari wajah yang saya kenali--dan memikirkan betapa banyak perubahan yang terjadi.

Sepuluh tahun yang lalu, saya ingat situasinya sangat berbeda. Beberapa hari setelah tsunami - ketika semuanya rata - dari sini Anda dapat melihat ke segala arah - termasuk laut, yang berjarak sekitar dua kilometer di bagian barat dan juga ibu kota Banda Aceh.

Lumpur, puing, serta kesengsaraan ada di mana-mana. Para relawan mulai mencari jenazah, dan ratusan mayat terbaring di jalanan.

Reuni yang mengharukan

Di tenda darurat pengungsi yang didirikan dekat masjid, saya pertama kali bertemu dengan Mawardah Priyanka. Saat itu dia berusia 11 tahun, kelelahan, sangat kotor, dan sendirian.

Kedua orangtuanya meninggal karena gelombang tsunami - yang diperkirakan setinggi 35 meter - menimpa rumah mereka di desa di pesisir Lampuuk. Beberapa hari kemudian dia menemukan kakaknya, Mutiyah, 16 tahun, ditemukan masih hidup.

Dalam beberapa bulan selanjutnya, saya tetap saling berkabar dengan dua bersaudara tersebut selagi mereka pindah ke tenda pengungsian, lalu ke tenda mereka sendiri, dan kemudian ke rumah baru yang dibangun oleh lembaga amal Oxfam.
Mawardah kembali ke sekolah. Adapun Mutiyah menikah dan pindah. Kakak mereka yang lebih tua, Ita, pindah ke rumah mereka di Lhoknga. Tetapi, delapan tahun kemudian, saya kehilangan kontak mereka.

Sulit bagi saya untuk menentukan arah ketika saya berjalan di tempat yang dulu sangat berlumpur. Sekarang di tempat itu ada jalan raya, dengan jembatan baru di atas sungai kecil.

Di sebelah kanan, saya melihat bangunan rumah - sangat sederhana, berdinding kayu dan beratap seng.

Seseorang berteriak bahwa ada orang asing datang, dan tiba-tiba sosok yang tinggi dengan berseri-seri berlari keluar dari rumah. Reuni yang membahagiakan, mengharukan - dan sempat beberapa saat janggal - bagi kami berdua.

Saya melihat bagaimana sosok Mawardah kecil telah berubah -tentu bertambah tinggi- dan betapa kehadiran saya berarti bagi dia dan bagi saudarinya Mutiyah yang tiba dari daerah lain, dua hari kemudian.

Saya merasa bersalah karena tidak berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengontak mereka kembali ketika jaringan asing meninggalkan provinsi itu.

"Tidak ada yang peduli terhadap saya - tidak ada yang mencintai saya seperti orangtua saya," kata Mawardah sambil menangis keesokan harinya.

Tsunami menghancurkan jejak orangtuanya - tidak tersisa foto ibu atau ayahnya. Sedangkan Ita harus menghidupi keluarga, seringkali meninggalkan Mawardah sendirian.

Rumah yang kosong

Tetapi kemudian, tampak jelas bahwa bencana yang menyapu kehidupan Mawardah, juga berdampak positif. Pada usia 21 tahun, dia menjadi sosok perempuan muda yang percaya diri, cerdas dan berambisi.

Dia meraih sejumlah beasiswa dari perusahaan semen lokal (yang dibangun kembali setelah tsunami) dan kuliah jurusan bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta di Banda Aceh.

Selama dua hari, kami mengobrol di rumah kecilnya, berkunjung ke sekolah dan makan siang dengan teman-teman dekatnya, saya belajar lebih banyak tentang cobaan dan komplesitas hidupnya, dan itu membawa saya memahami bahwa pengalaman Mawardah merupakan cerminan keadaan di Aceh dalam satu dekade setelah tsunami.

Di sana pertama kali dibangun rumah - satu dari 140.000 unit yang dibangun dengan bantuan dana internasional sebanyak 7 miliar dolar AS untuk Aceh.

Rumah Marwadah dibangun dengan cepat dan atapnya tampak bocor, tembok tipis, dan saya ingat sejumlah pertengkaran yang tidak pantas di awal masa pembangunan mengenai kerabat mana yang akan memiliki hak atas rumah.

Tetapi, bangunan itu akhirnya sesuai dengan peruntukannya, dan keluarga kemudian mengakui bahwa rumah mereka lebih baik dibandingkan yang mereka miliki sebelum 2004.

Di tempat lain, banyak rumah tidak ditempati - bangunan itu dibangun di tengah kebingungan karena koordinasi yang buruk, dan seringkali bersaing antar lembaga bantuan, memiliki banyak uang dan terkadang lebih memikirkan menghabiskannya dengan cepat dibandingkan mengetahui keinginan komunitas lokal.

"Saya memberikan (skor untuk) upaya bantuan 65 (dari 100)," kata Muslahuddin Daud, seorang pejabat Bank Dunia yang hampir terkena tsunami.

"Banyak yang tidak sempurna. Untuk 7 miliar dolar kami dapat melakukannya lebih baik dengan banyak cara. Banyak rumah-rumah kosong... berlebihan. Kami memiliki lebih dari 500 organisasi bantuan dan... banyak yang tumpang tindih."

"Dan banyak uang bantuan asing dalam jangka panjang membuat orang jadi bergantung - dan mereka jadi malas. Pertumbuhan di Aceh masih mandeg - kemampuan untuk mengelola sumber daya tidak ada," kata Daud.

Perempuan yang kuat

Dan kemudian terjadi perdamaian.

Sebelum tsunami, Aceh bergulat dengan kekerasan akibat pemberontakan. Meski masih berusia 11 tahun, Mawardah ingat kondisi tersebut berdampak pada semua orang, ketakutan, jalanan ditutup dan bentrokan yang terjadi di desa-desa.

Tetapi bencana kemudian membawa pembicaraan damai, dan saat ini provinsi ini terus mendapatkan manfaat dari kesepakatan otonomi yang mengakhiri konflik. Pemerintahan baru telah menerapkan elemen hukum Syariah- yang didukung banyak warga termasuk Mawardah.

Tetapi kritik mengatakan sejumlah hukuman tersebut mencederai hak asasi manusia. Meski jumlah investor asing yang meningkat, provinsi ini masih termasuk lambat dalam pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

"Kami menyukai Syariah dan saya merupakan seorang Muslim yang taat," kata Mawardah.

Meski demikian, dia mengaku yakin bahwa petugas polisi Syariah seringkali bersikap "munafik".

Suatu sore, kami mampir di kampus Mawardah di Banda Aceh tempat dia berlatih Thai kickboxing dengan sekelompok mahasiswa dan mahasiswa.

"Dia mahasiswi yang bagus. Dia bekerja dan belajar dengan keras. Sebagai seorang perempuan, dia memiliki semangat seperti pria. Dia kuat. Dia tidak mudah menyerah," kata guru bahasa Inggrisnya Maulizan Za.

Dia khawatir mengenai inflasi, tetapi - seperti banyak orang yang saya tanyai - mereka yakin bahwa hidup mereka lebih baik dan aman dibandingkan sebelum tsunami.

"Teman saya merupakan keluarga saya sekarang," kata Mawardah, setelah berlatih kickboxing dan bersiap kembali ke rumah dengan mengendarai motor saudarinya.

"Saya ingin menjadi seorang perempuan yang kuat. Setelah saya lulus saya akan kuliah di Amerika, dan bekerja sebagai seorang reporter. Saya merasa masa depan saya akan cerah," kata dia mencerminkan kepercayaan diri. []

|kompas

Warga Aceh Peringati 10 Tahun Tsunami

ACEHXPress.com | Hari ini warga Aceh memperingati 10 tahun terjadinya bencana alam tsunami. Bencana yang mungkin sulit mereka lupakan ketika itu.

Rangkaian acara digelar sejak 25-28 Desember 2014. Namun puncak peringatannya tepat hari ini 26 Desember 2014.

Seperti dikutip situs Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jumat (28/12/2014), rangkaian acara dimulai sejak Kamis malam dengan menggelar Aceh Berzikir. Acara ini diadakan di Mesjid Raya Baiturrahman, yang diawali dengan berdoa, tausiyah dan dilanjutkan dengan Zikir.

Sementara hari ini, digelar upacara Peringatan 10 Tahun Tsunami. Upacara ini merupakan puncak peringatan 10 tahun tsunami dan akan dihadiri oleh pejabat senior pemerintah Indonesia, perwakilan negara sahabat, pekerja kemanusiaan dan elemen masyarakat sipil.

Setelah itu, usai upacara hingga Minggu 28 Desember, digelar Pameran Kebencanaan, Seni Kreatif, Pameran Foto bertema: Rekonstruksi dan pengurangan resiko bencana. Pameran kebencanaan dilakukan di Blang Padang, untuk Seni Kreatif dan pameran foto dilakukan di Museum Tsunami

Malam harinya, digelar Kesenian Aceh atau Malam Apresiasi. Acara ini akan menjadi malam apresiasi dari Aceh untuk Dunia. Dengan penampilan terbaik dari seniman Aceh, diharapkan juga adanya pertunjukan seni yang dibawakan dari kelompok seniman dari dalam dan luar negeri.

Minggu, 28 Desember, digelar Run ID Tsunami 10 K. Acara lari 10 km ini merupakan simbol dari harapan dan jiwa kebebasan dalam kemanusiaan. para peserta akan memiliki pemahaman mengenai upaya rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dengan berlari sepanjang wilayah yang terkena tsunami. []

|detikcom

Aceh Berzikir Awali Peringatan 10 Tahun Tsunami Aceh

ACEHXPress.com | Ratusan orang mengikuti Aceh Berzikir di Banda Aceh, Provinsi Aceh, Kamis (25/12/2014) malam, memperingati 10 tahun tsunami yang menewaskan 220.000 orang dari 14 negara.

Pada Desember 2004, gempa berkekuatan 9,3 skala Richter mengguncang pantai barat, memicu gelombang raksasa air yang meluluhlantakkan Indonesia, Thailand, Sri Lanka, dan Somalia.

Di antara para korban tewas adalah ratusan wisatawan yang sedang menikmati liburan Natal di wilayah-wilayah pantai dengan matahari tropis menyinari itu, menyebabkan bencana ini mendunia.

Sekitar 7.000 pemuka agama Islam, para korban selamat, dan petugas penyelamat, berkumpul dan berdoa pada Kamis malam, di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, yang menjadi "saksi mata" musibah besar itu.

Ulama Malaysia, Syeikh Ismail Kassim, mengatakan dia dan beberapa ratus orang kolega mengikuti zikir ini untuk menunjukkan dukugan mereka kepada Aceh. "Kami harap warga Aceh tak goyah meski mengalami musibah ini," kata Kassim.

Gubernur Aceh, Zaini Abdullah berterima kasih kepada para peserta zikir, baik dari Indonesia maupun luar negeri, atas kedatangan mereka ke masjid ini.

"Tsunami telah menyebabkan duka mendalam bagi warga Aceh, oleh kehilangan orang-orang yang mereka cintai," kata Zaini. "Simpati dari sesama orang Indonesia maupun masyarakat internasional, membantu (Aceh) pulih."

Zaini pun meminta warga Aceh untuk tak berdiam dalam duka. "Sehingga kita bisa bangkit dari keterpurukan dan mewujukan Aceh yang lebih baik," harap dia. 

Kamaruddin, nelayan setempat, mengatakan dia mengikuti zikir ini untuk mengenang istri dan tiga anaknya yang meninggal karena tsunami tersebut. "Saya harap tak ada lagi bencana di Aceh," harap lelaki berumur 50 tahun tersebut.

Di Meulaboh, kawasan pantai yang menjadi "ground zero" tsunami--wilayah yang berhadapan langsung denagn ombak setinggi 35 meter ketika tsunami terjadi pada 2004--bendera merah putih berkibar setengah tiang, sementara sebagian warga menggelar acara doa di masjid yang menjadi satu-satunya bangunan utuh setelah tsunami menerjang.

Peringatan utama atas musibah pada sepuluh tahun lalu itu, akan digelar pada Jumat (26/12/2014) pagi, dimulai dari Aceh yang pertama kali dihantam tsunami pada saat itu, berlanjut ke Thailand yang akan menggelar upacara dengan menyalakan lilin di resor antara Pukhet adn Khao Lak.

Peringatan 10 tahun tsunami juga akan digelar di Srilanka, termasuk di lokasi tempat sebuah kereta dengan 1.500 penumpang terempas tsunami. Di beberapa negara di Eropa, peringatan serupa juga berlangsung, bagi para korban berkewarganegaraan asing yang menjadi korban dalam musibah yang sama. []


|kompas

Kenang 10 Tahun Tsunami, Nelayan Aceh Tidak Melaut

kapal yang terdampar akibat tsunami (Choo Youn Kong/Getty Images)

ACEHXPress.com | Sejak tiga hari terakhir nelayan Aceh sudah mulai memarkirkan perahunya di sejumlah dermaga di Aceh. Mereka tiga melaut untuk menghormati dan memperingati tragedi tsunami yang menghumbalang Aceh 10 tahun silam.

Panglima Laot Aceh, Bustaman, mengatakan, setelah digelar musyawarah dengan para nelayan diputuskan 26 Desember sebagai hari pantang melaut. Tujuannya, untuk mengenang warga Aceh yang menjadi korban saat tsunami menyapu tanah Rencong.

Panglima Laot Aceh adalah sebuah struktur adat di kalangan masyarakat nelayan Aceh, yang bertugas memimpin persekutuan adat pengelola Hukum Adat Laut. 

"Saat tsunami dulu banyak nelayan yang tinggal di wilayah pesisir menjadi korban. Keputusan pantang melaut ini sudah berlaku sejak beberapa tahun lalu," kata Bustaman, Kamis (25/12/2014).

Seruan untuk tidak melaut sudah disampaikan kepada seluruh nelayan di Aceh sejak beberapa waktu lalu. Selain 26 Desember, hari pantang melaut di Aceh lainnya yaitu hari Jumat dan lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha.

Menurut Bustaman, sebagian nelayan di Aceh sudah tidak melaut sejak tiga hari lalu karena takut nanti pada 26 Desember tidak bisa pulang. Ia mengajak seluruh nelayan untuk mengisi hari pantang melaut dengan zikir maupun doa besama.

"Semua nelayan Aceh patuh dengan aturan pantang melaut," ungkapnya. []

|detikcom

Kisah Mistis Fotografer Liput Tsunami Aceh



ACEHXPress.com | Mendekati momen-momen peringatan bencana tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 silam, mencuatlah sejumlah penuturan kisah dari pihak-pihak yang sempat mengunjungi Banda Aceh pasca-bencana maha dahsyat tersebut.

Arie Basuki, seorang fotografer yang sempat meliput dan mengambil gambar langsung di Banda Aceh setelah tsunami, menuturkan rangkaian tugas peliputannya sepanjang perjalanan dari Medan ke pusat kota Banda Aceh.

Pria yang akrab disapa Arbas ini menceritakan, setelah sampai di Medan, dirinya kesulitan mencari kendaraan yang hendak mengantarnya menuju Lhokseumawe. Penyebabnya sejumlah akses untuk menuju ke sana telah terputus. Setelah mencari-cari, akhirnya ia mendapatkan mobil sewaan berupa mobil minibus L300 plus jasa sopir, untuk menempuh 12-13 jam perjalanan dari Kota Medan menuju Lhokseumawe.

"Karena saat itu masih jamannya DOM (Daerah Operasi Militer), maka di dalam perjalanan saya dan sopir kerap kali berhenti di setiap pos penjagaan militer untuk ditanyai segala macam. Pas kita bilang mau lihat kondisi di Banda Aceh karena dilaporkan terjadi bencana, setiap pos itu coba memastikan kita bahwa tidak ada kejadian apa-apa di sana. Tapi kita berkeras tetap menuju ke sana dan akhirnya diizinkan," kata Arbas seperti dituturkan kepada merdeka.com, Rabu (24/12).

Setelah memasuki Lhokseumawe, Arbas mengaku mulai menemui kerumunan-kerumunan warga guna menanyakan perihal kejadian yang baru saja terjadi. Sejumlah warga mengaku bahwa ada bencana air bah besar di Banda Aceh, dan korban dikabarkan sudah mencapai sekitar 5000 orang.

"Saat itu nggak ada yang bisa memastikan telah terjadi apa, dan korbannya berapa. Semua jalur komunikasi masih terputus dan info yang kita dapatkan pun masih simpang siur," kata Arbas.

Setelah sampai di Lhokseumawe, Arbas mengaku mulai bertemu beberapa fotografer dari sejumlah media, yang tiba di Lhokseumawe bersama rombongan Kasad. Setelah berbincang dengan mereka, akhirnya ia sepakat untuk memberikan tumpangan mobil sewaan yang ditumpanginya itu kepada para fotografer tersebut, sekaligus mendapatkan teman-teman seperjalanan yang seprofesi untuk sama-sama bertugas.

Saat tiba di Banda Aceh pada waktu subuh (28/12/2004), atau tepat 2 hari pasca-kejadian, Arbas mengaku rombongannya itu langsung dibuat merinding sekujur badan, karena melihat gelimpangan mayat yang begitu memilukan di berbagai tempat.

Mereka kemudian berhenti sekitar 200 meter dari Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Dengan kondisi masih terhenyak akan kondisi memilukan yang ada, mereka mulai melihat-lihat kondisi di dalam masjid, dimana begitu banyak warga yang berhasil selamat dari terjangan tsunami, yang masih tertidur bersama mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam masjid.

"Jadi sampai di Banda Aceh itu kita subuh. Dan saat matahari mulai terang, disitu kita semua shock melihat begitu banyak mayat di pinggir jalan, di dalam mobil, bahkan di atas pohon. Pokoknya dimana-mana itu mayat berserakan seperti (maaf) sampah. Kondisinya sangat memilukan sekali, bahkan ada sebagian mayat yang sedang dimakan anjing liar," tutur Arbas.

Arbas dan kawan-kawan sesama fotografer langsung bekerja mengambil gambar-gambar yang mereka butuhkan sebagai laporan. Dirinya mengaku, saat itu ia dan kawan-kawan fotografer lainnya seakan tak kuat melihat semua pemandangan yang begitu memilukan tersebut, hingga mereka terlihat sekedarnya saja mengambil gambar sesuai kebutuhan laporan.

Karena keterbatasan segala sesuatunya, terutama dalam hal jaringan internet untuk mengirimkan laporan dan foto-foto yang mereka ambil di Banda Aceh, selama beberapa hari itupun mereka terpaksa harus bolak-balik Lhokseumawe-Banda Aceh, guna melakukan tugas peliputan pemotretan kondisi, dan mengirimkan hasilnya dari Lhokseumawe.

"Kita itu datang hari kedua setelah gelombang tsunami menghancurkan seluruh isi kota. Kondisinya sangat porak-poranda. Perjalanan Lhokseumawe-Banda Aceh itu sekitar 6 jam, dan selama 5 hari itu rutinitas kita bolak-balik dari Lhokseumawe, menuju Banda Aceh, sampai di sana pagi, 5-6 jam ambil gambar, lalu siang hari balik lagi ke Lhokseumawe untuk kirim gambar. Baru setelah 5 hari, beberapa jasa provider buka pemancar darurat di Kantor Gubernur," kata Arbas.

"Bantuan itu baru pada masuk dari Medan sekitar hari ke 4. Masyarakat dari sekitar Aceh sendiri saat itu baru mulai intens memberi bantuan, karena mungkin mereka benar-benar baru mengetahui bencana tersebut karena keterbatasan informasi dan telekomunikasi yang ada. Di hari ke 4 pasca-terjangan tsunami itu lah baru mulai ada penguburan massal di daerah Ulee Lheu, Banda Aceh, yang sekarang jadi kuburan massal di sana," katanya menambahkan.

Arbas menuturkan prosesi penguburan mayat secara massal pertama di wilayah Ulee Lheu tersebut, dimana lubang besar seluas 50 meter persegi dibuat untuk mengubur mayat-mayat yang sudah mulai membusuk. Dirinya menuturkan, prosesi penguburan massal itu dilakukan dengan ala kadarnya, karena tidak memungkinkan untuk dilakukan prosesi formal penguburan dengan mayat yang berjumlah ribuan tersebut.

Arbas bahkan menceritakan, saat penguburan massal pertama di wilayah Ulee Lheu tersebut, mayat-mayat yang jumlahnya sangat banyak itu langsug dimasukkan begitu saja ke lubang, dengan kondisi pakaian bahkan perhiasan lengkap seperti saat meninggalnya.

"Saat itu lah saya mencoba turun sedikit ke arah lubang, untuk mengambil gambar deretan mayat yang sudah siap diuruk tanah tersebut. Karena sedikit terpeleset, akhirnya saya nggak sengaja menginjak rambut dari seorang mayat perempuan, hingga rambut-rambut tersebut mengelupas dan terlepas dari batok kepalanya," tutur Arbas.

"Ternyata setelah hari ke delapan saya pulang dan sampai Jakarta, entah kenapa saya mulai merasakan keranjingan minum-minuman keras tanpa sebab. Sampai saat saya ketemu teman yang paham hal-hal mistis, dia bertanya: 'Di belakang kamu ada siapa? Kayaknya ada cewek berjilbab hitam ngikutin kamu?' kata teman saya itu. Saya kaget, akhirnya saya ceritakan bahwa saya habis liputan ke Aceh. Maka teman saya itu melakukan mediasi kepada makhluk halus berupa arwah wanita berjilbab hitam itu, hingga akhirnya mengetahui bahwa ia mengikuti saya hanya untuk meminta bantuan menghubungi keluarganya yang masih hidup. Tapi karena saya nggak mengerti apa-apa, jadi itulah penyebab benturan energi sehingga pikiran saya jadi kacau dan akhirnya keranjingan minum-minuman keras tanpa sebab," ujarnya. []


|merdeka

Pembangunan Mental Warga Aceh Masih Lemah



ACEHXPress.com | Bencana gempa dan gelombang tsunami Aceh berlalu satu dasawarsa lalu. Aliran bantuan untuk membangun kembali Aceh menelan hingga sekitar puluhan triliun rupiah. Upaya membangkitkan Aceh dipimpin Badan Rehabilitasi Rekontruksi (BRR) sejak 2005 hingga 2009.

Sosiolog dari Universitas Syiahkuala Banda Aceh, Saleh Sjafiie, mengatakan, rehabilitasi dan rekontruksi fisik di Aceh tergolong cukup berhasil. Pemerintah, negara donor, dan organisasi kemanusiaan tek henti bahu membahu membantu Aceh. Misalnya puluhan ribu rumah, ratusan perkantoran, ratusan kilometer jalan dan falisitas umum lainnya berhasil dibangun dengan bagus. Lalu banyak NGO dan pendonor lainnya membantu berbagai fasilitas fisik untuk masyarakat dan intansi pemerintah lokal.

Namun, dia merasa masih ada yang kurang. Menurut dia, rehabilitasi atau rekontruksi mental dan moral masyarakat Aceh masih sangat lemah. Hal itu dicerminkan dari gaya Aceh belakangan ini. Belanja pemerintah daerah masih berpihak pada sekelompok orang atau kalangan tertentu. Kemudian, masyarakat penerima manfaat masih menggangap bantuan tersebut tidak perlu dipelihara, bukan modal keberhasilan di depan.

"Pemerintah pun memberi bantuan asal melahirkan proyek. Tujuannya untuk mereka yang terdekat hubungannya. Kondisi semacam itu menyulitkan moral anak negeri," kata dia.

Kebangkitan ekonomi Aceh pun masih jauh dari harapan sesungguhnya. Perhatian dunia seperti diabaikan. Sebaliknya, Aceh tak bisa lepas dari APBN atau APBD.

"Kita lemah dalam hal mempersiapkan bagaimana keluar dari kehancuran ekonomi secara permanen. Begitu para donor meninggalkan Aceh, semua pihak tidak siap," ujar Saleh.

Dia juga mengatakan bahwa warga kurang memanfaatkan banyaknya ilmuan yang datang ke Serambi Aceh. Padahal, tidak sedikit teori baru lahir dari penelitian tsunami Aceh. Namun, masyarakat hanya bangga dengan kedatangan ilmuan dan bangsa asing yang mempelajari tsunami itu.

Sepengamatan Saleh, tidak banyak masyarakat setempat yang mengerti benar cara menyelamatkan diri dan penanggulangan risiko akibat bencana serupa terjadi lagi. Di sisi lain, pemerintah lokal dan pusat seperti tidak menganggap peting ilmu itu diterapkan kepada anak negeri.

"Kalau bencana kembali terjadi, saya tidak bisa bayangkan bagaimana mereka yang hidup di daerah rawan. Mereka berduit dan memiki kekuasaan yang selamat nanti dengan mudah pergi luar dan memboyong keluarga mereka tanpa menghiraukan orang lain," kata Saleh.

Dia pun meminta pemerintah menstimulus kecerdasan dan keluhuran moral masyarakat. Sehingga Aceh sungguh-sungguh keluar dari keterpurukan dan tak tergantung bantuan. [metrotv]

Kategori

Kategori