Showing posts with label Internasional. Show all posts
Showing posts with label Internasional. Show all posts

John Kerry Mengenang 10 Tahun Tsunami Aceh

ACEHXPress.com | Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry turut memperingati 10 tahun tsunami yang meluluhlantakkan Aceh. Kenangan dan harapannya terkait bencana alam yang menggguncang kawasan selatan Asia itu termuat di situs kementeriannya.

"Saya tak akan pernah melupakan semua pemberitaan soal tsunami di Samudera Hindia pada 10 tahun lalu. Kota-kota hancur dari Indonesia sampai Somalia, air menyapu rumah penduduk, ribuan orang tewas dan yang lain terpisah dari keluarganya," papar Kerry, dalam pernyataan yang ditulis pada Senin (22/12/2014) itu.

Kerry pun mengajak semua orang sejenak berhenti dari aktivitas saat ini, untuk mengenang orang-orang yang menjadi korban tsunami, dari para nelayan dan petani lokal sampai para wisatawan yang sedang berada di lokasi tsunami pada saat itu. 

"Saya tahu, tak ada kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan kehilangan itu. Tak ada cara untuk menghapus luka hati para orangtua yang kehilangan anak-anaknya atau anak yang kehilangan orangtuanya dan dipaksa menjadi lebih cepat dewasa daripada umur sebenarnya."

Dalam pernyataannya itu, Kerry menyatakan pula penghargaan untuk jutaan orang yang telah turun tangan membantu upaya pemulihan di kawasan terdampak tsunami tersebut. Penghargaan lebih tinggi dia sampaikan kepada mereka yang masih melanjutkan kontribusinya itu, setelah tsunami lewat bertahun-tahun. 

"Tsunami ini merupakan salah satu yang terburuk yang pernah kita lihat, tetapi sekaligus memunculkan banyak hal terbaik dari kita," sebut Kerry. Namun, ujar dia, tsunami tersebut juga sekaligus menggemakan peringatan bagi para penghuni Bumi.

Selama ini, tutur Kerry, sejumlah wilayah sudah kerap mengalami banjir dan peningkatan permukaan tinggi air. Namun, kata dia, para peneliti selama bertahun-tahun sudah menyuarakan pula bahwa perubahan iklim dapat berarti akan ada badai yang lebih banyak dan merusak. "Kecuali kita berupaya menghentikan dan membalikkannya."

"Pada hari kita mengenang tsunami ini, kami berduka bersama seluruh saudara-saudara kita di Asia dan Afrika yang terdampak bencana tersebut," tulis Kerry. Dia pun menjanjikan komitmen membantu pemulihan daerah-daerah yang terdampak bencana itu, menjadi lingkungan yang lebih aman dari bencana sebagai warisan bagi anak cucu. []

|kompas

Kisah Pilu Bocah Pengidap HIV Diusir dari Kampung

ACEHXPress.com | Nasib malang menimpa Kun Kun, bocah asal China. Anak berusia delapan tahun ini terancam diusir oleh warga kampungnya hanya gara-gara mengidap HIV. Warga juga mengancam akan mengisolasinya.

Dikutip Dream dari Shanghaiist, Kamis 18 Desember 2014, sekitar 200 warga di desa yang terletak di wilayah Sichuan ini telah menandatangani petisi untuk membuang Kun Kun. Yang menyedihkan lagi, warga penanda tangan petisi ini termasuk kakek sekaligus wali Kun Kun.

Kun Kun didiagnosa mengidap HIV pada 2011 silam. Dia terinveksi HIV dari sang ibu. Tak hanya terancam dibuang, Kun Kun bahkan telah diusir dari sekolah. Sungguh menyedihkan.

Terkait kasus ini, wali kota setempat mengatakan bahwa Kun Kun seharusnya dapat menikmati hak yang sama seperti orang-orang lain, bukan malah diusir dari kampung halamannya. “Pemerintah kota akan menerapkan kerja ideologi kepada warga desa,” demikian laporan surat kabar setempat.

Dalam sebuah video, kepala desa yang memimpin rapat membahas nasib bocah itu menyatakan bahwa Kun Kun sangat membahayakan keluarga dan anak-anak mereka. Warga desa lainnya juga berpendapat demikian.

“Dia akan menularkan kepada orang lain. Kami [sesepuh desa] tidak takut mati, tapi ketika orang-orang yang masih muda kembali, mereka pasti akan menyuruhnya pergi,” demikian kata seorang warga.

Nasib Kun Kun benar-benar terlunta-lunta, karena banyak warga yang menjauhinya. “Saya benci dia, benci penyakitnya. Ketika dia datang ke rumah, saya memberinya makanan. Kemudian saya membuang mangkuk yang dia pakai untuk makan,” ujar warga lainnya.

Sang kakek yang berusia 69 tahun, Luo Wenhui, mengaku tak tahu siapa ayah Kun Kun. Satu-satunya yang tahu ayah biologis bocah malang itu adalah ibunya. Dan sang kakek pun tak punya harapan lagi untuk merawat cucu malangnya itu.

“Ayahnya tak memberi saya uang untuk memberinya makan. Dia tinggal dan makan bersama saya. Karena nurani saya memberinya makan dan pakaian,” kata Wenhui.

Menurut Shanghaiist, pengidap HIV dan AIDS di China memang kerap mendapat diskriminasi di China. Sejumlah dokter dan perawat bahkan menolak untuk merawat mereka. Sejumlah perusahaan juga menolak para pengidap HIV dan AIDS.

Pemerintah China sebenarnya telah menerapkan kebijakan untuk mengakhiri diskriminasi kepada pengidap HIV/AIDS. Sejumlah politisi beberapa tahun terakhir bahkan melakukan kunjungan ke pasien HIV/AIDS di seluruh China. []

dream

Bank Dunia: Manajemen Risiko Bencana di Aceh Jadi Contoh Negara Lain

Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani dalam diskusi 10 tahun tsunami Aceh di Washington, DC. (VOA/Eva Mazrieva)
ACEHXPress.com | Pekan depan pada 26 Desember adalah tepat 10 tahun terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami yang mengguncang sebagian besar Asia, terutama Daerah Istimewa Aceh.

Bencana alam dahsyat itu tidak saja meluluhlantakkan bangunan dan infrastruktur yang ada, tetapi juga menewaskan lebih dari 230 ribu orang.

“Saya tiba di Aceh pada hari kedua dan tidak bisa mempercayai apa yang saya lihat. Bangunan-bangunan hancur, mayat bergelimpangan di mana-mana dan kami hampir tidak bisa mengontak seorang pejabat pun di sana karena sarana komunikasi dan pemerintahan daerah lumpuh," ujar Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani.

Berbicara dalam diskusi Bank Dunia yang bertema “10 Years After the Tsunami in Aceh: Rebuilding Better from Disaster” Selasa (16/12), Sri Mulyani merefleksikan kembali apa yang dilakukannya pada hari-hari awal terjadinya bencana itu.

“Tantangan utama kami pertama kali adalah menyediakan makanan, pakaian, selimut, peralatan medis dan kebutuhan dasar bagi para korban. Begitu banyak sebenarnya bantuan yang datang, tapi kami kesulitan mengelolanya," ujar mantan menteri keuangan itu sambil tak kuasa menahan air mata.

Ditambahkannya, karena bencana ini baru pertama kali terjadi dan Indonesia tidak punya pengalaman sebelumnya, persoalan yang datang ketika itu pun bertubi-tubi.

“Menguburkan para korban saja misalnya, membutuhkan pertimbangan dan bahkan fatwa dari para alim ulama. Dalam tata cara Islam mayat seharusnya dimandikan, disucikan, di-shalatkan baru dikuburkan. Tapi mengingat ribuan korban yang ada, akhirnya kami menguburkan secara langsung dalam beberapa kuburan massal," kenang Sri.

Salah seorang pembicara diskusi lainnya, Kepala Ekonom Institusional Bank Dunia Joel Helman, yang juga mantan penasihat pemerintah Indonesia ketika itu, menceritakan bagaimana ia dipanggil untuk membantu mendirikan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitas Aceh (BRR) yang dipimpin Kuntoro Mangkusubroto.

Kerjasama dengan pejabat-pejabat pusat dan lokal, serta bantuan Kelompok Bank Dunia dan lembaga-lembaga donor lainnya, membuat BRR mengelola bantuan multi-donor bernilai sekitar US$700 juta.

“Selain memikirkan upaya memulihkan semangat warga Aceh, langkah-langkah perbaikan infrastruktur dan koordinasi kebijakan antar badan demi mempercepat pemulihan pasca bencana, kami juga harus tetap menjaga transparansi operasi dan kepercayaan donor. Jangan sampai terjadi korupsi," ujar Helman.

Hal serupa disampaikan dua pembicara lainnya Wakil Presiden World Bank Group Untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik Axel van Trotsenburg dan Presiden/CEO World Resources Institute Andrew Steer.

Mengenai sejauh mana manajemen risiko bencana yang diterapkan Bank Dunia di Aceh memberi manfaat untuk menangani bencana di berbagai belahan dunia lain, Steer mengatakan inisiatif serupa terasa sangat bermanfaat ketika menghadapi topan Haiyan di Tacloban, Filipina pada awal November 2013.

Steer mencontohkan bagaimana mengkoordinasikan bantuan dari berbagai negara dan badan internasional, sambil menjangkau daerah-daerah terpencil yang dilanda topan dahsyat berkekuatan 230 kilometer per jam yang menewaskan lebih dari 6.300 orang dan menyebabkan lebih dari 1.785 lainnya hilang.

Sri Mulyani menekankan pentingnya untuk melibatkan suara atau pendekatan perempuan dalam manajemen resiko bencana yang dirancang Bank Dunia.

“Sejak dari kasus bencana tsunami di Aceh, kami melihat betapa perempuan – kelompok paling rentan dalam bencana – ternyata juga menjadi kelompok paling kuat, tidak saja bagi keluarganya tetapi juga masyarakatnya. Jadi ya, kami memang memasukkan perspektif perempuan dalam kebijakan-kebijakan penanganan bencana itu," ujarnya.

Peringatan sepuluh tahun bencana gempa bumi dan tsunami Aceh akan dipusatkan di Banda Aceh dan dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla. Lebih dari 35 utusan negara sahabat diperkirakan akan ikut menghadiri peringatan yang diramaikan dengan berbagai kegiatan, mulai dari dzikir bersama, ziarah ke beberapa kuburan massal, pameran foto dan lukisan, malam apresiasi hingga lomba lari marathon. [voa]

Tahun 2022, Novelis Prancis Sebut Muslim Bakal Jadi Presiden

Novelis Prancis, Michel Houellebecq
ACEHXPress.com |  Novelis Prancis, Michel Houellebecq kembali merilis novel terbarunya. Namun, di novel barunya ini Houllebecq membuat geger publik Prancis.

Dalam novel terbarunya itu, Houllebecq menyebut partai Islam memenangkan kursi kepresidenan Prancis. Sontak, warga Prancis mencaci-maki karya Houellebecq.

Novel berjudul Submission itu akan dirilis Januari mendatang. Dikisahkan masa depan Prancis di tahun 2022. Saat itu, Prancis masih dipimpin Presiden Francois Hollande.

Di akhir masa jabatan Hollande, ada dua kubu yang bersaing kuat menduduki puncak kekuasaan di Prancis yakni, Front Nasional (kelompok sayap kanan) dan Persaudaraan Muslim (Ikhwanul Muslimin). Di akhir cerita, Persaudaraan Muslim yang berkoalisi dengan kalangan sosialis dan tengah sukses memenangkan pemilihan presiden.

Houellebecq merupakan novelis kontroversial yang produktif. Pada tahun 2002 silam, pengadilan Prancis membebaskannya karena menyebut Islam agama bodoh. Submission sendiri kiasan dari kata bahasa Arab yang berarti tunduk kepada Allah.

"Novel Houellebecq akan memungkinkan kita untuk berdebat subjek baru:. Muslim di Perancis. Luar biasa, saya tidak bisa sabar," tulis Faรฏza Zeroula, dalam akun twitter pribadinya. seperti dilansir Local.fr, Rabu (17/12). [ROL]

Kategori

Kategori