Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Ciri-Ciri Orang Aceh

Aceh
AcehXPress.coMenurut beberapa catatan, di dalam Provinsi Aceh kini dihuni oleh 4,5 juta jiwa (2013), terdiri dari 13 suku dan 13 aneka macam bahasa suku, tentunya tidak termasuk bahasa wajib Indonesia.

Jika setuju, mari kita tarik benang merah saja, dimulai dari masa keemasan Aceh pada abad ke 14 di mana saat itu kerajaan Samudera Pasai (Pase) menjadi wilayah paling kuat dalam militer, politik dan ekonomi di selat Malaka sebelum akhirnya hancur dan digantikan oleh Kesulthanan Aceh lebih modern dan kuat pada abad ke 17.

Apa dan bagaimana perilaku dan tabiat  orang Aceh yang telah mendahului kita ratusan tahun lalu sehingga mereka mampu membuat Aceh menjadi bangsa atau suku yang terhormat oleh kawan dan lawannya?

Apa ciri-ciri dan karakter para nenek moyang dan indatu kita sehingga mampu mengangkat harkat dan martabad Aceh menjadi kerajaan yang terkenal dan maju disalah satu sudut muka bumi ini?

Pertanyaan di atas tidak berarti kondisi Aceh saat ini lantas berantakan, mundur, tidak maju atau membingungkan. Tidak seperti itu. Kondisi saat ini justru telah maju sehingga kita mampu memberi analisa dan pandangan serta pengamatan terhadap sejarah Aceh untuk menghargai para pendahulu Aceh yang telah memberi segalanya untuk para penerusnya masa kini.
Melihat pada nama Aceh berasal dari tulisan “ATJEH” (ejaan lama dan ejaan dalam bahasa Aceh) mari kita kaitkan dengan sejumlah ciri-ciri orang Aceh yang dapat dilihat pada aneka sejarah dan kebudayaan Aceh dari masa abad ke 14 hingga masa kini.
Oleh karenanya ciri-cir orang Aceh (Atjeh) adalah sebagai berikut :

A  = Agamais.

  • Orang Aceh terkenal taat menjalankan agama dan mempertahankan syariat agamanya. Meski sama dengan sejumlah muslimin dan muslimah lainnya yang membedakannya adalah peranan pemerintah memberi jaminan dan mendukung melestarikan prinsip agama  (Islami) di wilayah Aceh.

  • Orang Aceh menjunjung tinggi kebebasan beragam ummat lainnya dan menghormati pemeluk agama lainnya selama saling menghormati.
T =  Taat atau Patuh
  • Orang Aceh terkenal setianya jika sudah mengenal baik atasan, teman, tetangga dan lingkungannya. Mereka akan patuh dan taat menjalankan tugas-tugasnya.

  • Orang Aceh terkenal taat pada Syariat dengan menjauhi larangan  Allah dan menjalankan perintah Allah.

  • Orang Aceh terkenal taat hukum dan aturan yang dibuat oleh Kerajaan pada masa lalu dan peraturan pemerintah pada masa-masa kemerdekaan RI.

  • Orang Aceh patuh pada pimpinannya termasuk terhadap pemimpin wanita sekalipun seperti yang diperlihatkan terhadap Laksamana Kuemalahayati, Cut Meutia, Cut Nya’ Dhien dan lain-lainnya.

  • Orang Aceh juga terkenal banyak akalnya, cerdik dan tidak gampang menyerah. Jika diarahkan pada hal-hal positif sikap ini akan menjadi modal utama sebagai individu yang handal  dan tangguh di segala bidang. Akan tetapi jika mengarah pada hal-hal negatif, maka sikap ini disebut “licik” atau akal bulus. Ini yang harus dijauhi.
J =  Jihadis
  • Orang Aceh melakukan pekerjaan sama dengan berjuang. Berbakti kepada bangsa, negara dan keluarga adalah berjihad atau berjuang di jalan Allah. Oleh karenanya jika ia telah menguasai bidangnya maka ia akan menjadi SDM handal pada bidangnya, mencintainya dan loyal hingga rela mengorbankan jiwa raganya untuk menjaga pekerjaan dan institusinya.
E = Etis (Beretika)

Oleh karena kental dengan prinsip dalam agamanya orang Aceh pada umumnya memiliki etika sebagai berikut :
  • a. Menghargai orang lain

  • b. Menghormati aturan hukum, Undang-undang dan syariat Islam

  • c. Tenggang rasa dan Penolong. Tenang, tidak lekas naik darah.

  • d. Tidak congkak, iri dengki dan sombong apalagi takbbur atau tinggi hati.

  • e.  Tidak egois, lebih suka mementingkan kebutuhan orang lain

  • f. Setia, loyal dapat dipercaya oleh atasan, majikan atau keluarganya

  • g. Menjunjug tinggi budayanya

  • h. Menghormati suku bangsa dan agama lainnya.
H = Humanis
  • Dalam setiap dimensi mengedapankan kebersamaan dan persaudaraan, mencakup  beberapa hal utama, yaitu :

  • a. Sesama muslim adalah saudara utama dan terutama

  • b. Sesama orang Aceh adalah saudara dekat sehingga tak perlu berlebih-lebihan

  • c. Sesama bangsa Indonesia adalah tetangga yang dekat yang perlu dihormati dan disayangi.

  • d.  Dan lain-lain.
Itulah beberapa hal yang membuat orang Aceh disegani kawan dan lawan pada masa-masa dahulu hingga beberapa dekade yang lalu.

Jika ada diantara kita  pada saat ini  melihat beberapa kalangan dan individu yang mengaku sebagai orang Aceh tapi tidak memperlhatkan beberapa ciri khas di atas, pantaskah disebut sebagai orang Aceh?

Pantas mungkin pantas, tapi ada yang harus diperbaiki, yakni ciri khas yang melekat pada hampir semua orang Aceh beberapa dekade yang lalu hingga ke masa-masa  silam hendaknya melekat kembali pada seluruh orang Aceh baik yang berada di Aceh dan dimanapun saja berada.

Ada pepetah mengatakan, “Buah itu jatuh tak jauh dari Pohonnya.” Dalam kaitan ini mungkin saja berarti betapapun engkau nun jauh di sana meninggalkan tanah airmu, suatu saat engkau akan kembali, karena tanah dan leluhurmu ada di sini di phon ini yang bernama Aceh.

Begitu juga dalam tingkah laku dan etika. Betapapun engkau modern dan berkecukupan dalam ekonomi dan finansial, janganlah engkau lantas menjadi tinggi hati seolah orang lain bukan saudara mu sesama Aceh.

Jika  tak dapat membantu mereka, janganlah pula memberatkan saudara mu. Karena sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat untuk lingkungan dan orang lainnya. Berdasarkan penjelasan di atas, mari refleksikan diri kita sendiri (masing-masing), apakah kita termasuk pada golongan ciri khas orang Aceh? [kompasiana]

Legenda dan Mitos tentang nama Aceh


AcehXPress.coAceh adalah nama sebuah Bangsa yang mendiami ujung paling utara pulau sumatera yang terletak di antara samudera hindia dan selat malaka.

Aceh merupakan sebuah nama dengan berbagai legenda dan mitos , sebuah bangsa yang sudah dikenal dunia internasional sejak berdirinya kerajaan poli di Aceh Pidie dan mencapai puncak kejayaan dan masa keemasan pada zaman Kerajaan Aceh Darussalam di masa pemerintahan Sulthan Iskandar Muda hingga berakhirnya kesultanan Aceh pada tahun 1903 di masa Sulthan Muhammad Daud Syah.

Dan walau dalam masa 42 tahun sejak 1903 s/d 1945 Aceh tanpa pemimpin, Aceh tetap berdiri dan terus berjuang mempertahankan kemerdekaannya dari tangan Belanda dan Jepang yang dipimpin oleh para bangsawan,hulubalang dan para pahlawan Aceh seperti Tgk Umar, Cut Nyak Dhien dan lain-lain dan juga Aceh mempunyai andil yang sangat besar dalam mempertahankan Nusantara ini dengan pengorbanan rakyat dan harta benda yang sudah tak terhitung nilainya hingga Aceh bergabung dengan Indonesia karena kedunguan dan kegoblokan Daud Beureueh yang termakan oleh janji manis dan air mata buaya Soekarno.

Banyak sekali tentang mitos tentang nama Aceh, Berikut beberapa mitos tentang nama Aceh yang dirangkum dari berbagai catatan lama seperti yang saya kutip dari Web Forum Plasa.

1. Menurut H. Muhammad Said (1972), sejak abad pertama Masehi, Acehsudah menjadi jalur perdagangan internasional. Pelabuhan Aceh menjadi salah satu tempat singgah para pelintas. Malah ada di antara mereka yang kemudian menetap. Interaksi berbagai suku bangsa kemudian membuat wajah Aceh semakin majemuk.Sepeti dikutip oleh H.M.Said catatan Thomas Braddel yang menyebutkan, di zaman Yunani, orang-orang Eropa mendapat rempah-rempah Timur dari saudagar Iskandariah, Bandar Mesir terbesar di pantai Laut Tengah kala itu. Tetapi, rempah-rempah tersebut bukanlah asli Iskandariah, melainkan mereka peroleh dari orang Arab Saba.Orang-orang Arab Saba mengangkut rempah-rempah tersebut dari Barygaza atau daripantai Malabar India dan dari pelabuhan-pelabuhan lainnya. Sebelum diangkut ke negeri mereka, rempah-rempah tersebut dikumpulkan di Pelabuhan Aceh.

2. Raden Hoesein Djajadiningrat dalam bukunya Kesultanan Aceh(Terjemahan Teuku Hamid, 1982/1983) menyebutkan bahwa berita-berita tentang Aceh sebelum abad ke-16 Masehi dan mengenai asal-usul pembentukanKerajaan Aceh sangat bersimpang-siur dan terpencar-pencar.

3. HM. Zainuddin (1961) dalam bukunya Tarich Aceh dan Nusantara, menyebutkan bahwa bangsa Aceh termasuk dalam rumpun bangsa Melayu, yaitu; Mantee (Bante), Lanun, Sakai Jakun, Semang (orang laut), Senui dan lain sebagainya, yang berasal dari negeri Perak dan Pahang di tanah Semenanjung Melayu.Semua bangsa tersebut erat hubungannya dengan bangsa Phonesia dari Babylonia dan bangsa Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga, India. Bangsa Mante di Aceh awalnya mendiami Aceh Besar, khususnya di Kampung Seumileuk, yang juga disebut Gampong Rumoh Dua Blah.Letak kampung tersebut di atas Seulimum, antara Jantho danTangse. Seumileuk artinya dataran yang luas. Bangsa Mante inilah yang terus berkembang menjadi penduduk Aceh Lhee Sagoe (di Aceh Besar) yang kemudian ikut berpindah ke tempat-tempat lainnya.Sesudah tahun 400 Masehi, orang mulai menyebut ”Aceh” dengan sebutan Rami atau Ramni. Orang-orang dari Tiongkok menyebutnya lan li, lanwu li, nam wu li, dan nan poli yang nama sebenarnya menurut bahasa Aceh adalah Lam Muri.Sementara orang Melayu menyebutnya Lam Bri (Lamiri). Dalam catatan Gerini, nama Lambri adalah pengganti dari Rambri (Negeri Rama) yang terletak di Arakan (antara India Belakang dan Birma), yang merupakan perubahan dari sebutan Rama Bar atau Rama Bari.

4. Rouffaer, salah seorang penulis sejarah, menyatakan kata al Ramni atau al Rami diduga merupakan lafal yang salah dari kata-kata Ramana. Setelah kedatangan orang portugis mereka lebih suka menyebut orang Aceh dengan Acehm.

5. Sementara orang Arab menyebutnya Asyi. Penulis-penulis Perancis menyebut nama Aceh dengan Acehm, Acin, Acheh ; orang-orang Inggris menyebutnya Atcheen, Acheen, Achin. Orang-orang Belanda menyebutnya Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh, dan Atjeh. Orang Aceh sendiri, kala itu menyebutnya Atjeh.

6. Informasi tentang asal-muasal nama Aceh memang banyak ragamnya. Dalam versi lain, asal-usul nama Aceh lebih banyak diceritakan dalam mythe, cerita-cerita lama, mirip dongeng. Di antaranya, dikisahkan zaman dahulu, sebuah kapal Gujarat (India) berlayar ke Aceh dan tiba di Sungai Tjidaih (baca: ceudaih yang bermakna cantik, kini disebut Krueng Aceh).Para anak buah kapal (ABK) itu pun kemudian naik ke darat menuju Kampung Pande. Namun, dalam perjalanan tiba-tiba mereka kehujanan dan berteduh di bawah sebuah pohon. Mereka memuji kerindangan pohon itu dengan sebutan, Aca, Aca, Aca, yang artinya indah, indah, indah. Menurut Hoesein Djajadiningrat, pohon itu bernama bak si aceh-aceh di Kampung Pande (dahulu), Meunasah Kandang. Dari kata Aca itulah lahir nama Aceh.

7. Dalam versi lain diceritakan tentang perjalanan Budha ke Indo China dan kepulauan Melayu. Ketika sang budiman itu sampai di perairan Aceh, ia melihat cahaya aneka warna di atas sebuah gunung. Ia pun berseru “Acchera Vaata Bho” (baca: Acaram Bata Bho, alangkah indahnya). Dari kata itulah lahir nama Aceh. Yang dimaksud dengan gunung cahaya tadi adalah ujung batu putih dekat Pasai.

8. Dalam cerita lain disebutkan, ada dua orang kakak beradik sedang mandi di sungai. Sang adik sedang hamil. Tiba-tiba hanyut sebuah rakit pohon pisang. Di atasnya tergeletak sesuatu yang bergerak-gerak. Kedua putri itu lalu berenang dan mengambilnya. Ternyata yang bergerak itu adalah seorang bayi. Sang kakak berkata pada adiknya “Berikan ia padaku karena kamu sudah mengandung dan aku belum.”Permintaan itu pun dikabulkan oleh sang adik. Sang kakak lalu membawa pulang bayi itu ke rumahnya. Dan, ia pun berdiam diri di atas balai-balai yang di bawahnya terdapat perapian (madeueng) selama 44 hari, layaknya orang yang baru melahirkan. Ketika bayi itu diturunkan dari rumah, seisi kampung menjadi heran dan mengatakan: adoe nyang mume, a nyang ceh(Maksudnya si adik yang hamil, tapi si kakak yang melahirkan).

9. Mitos lainnya menceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang anak raja yang sedang berlayar, dengan suatu sebab kapalnya karam. Ia terdampar ke tepi pantai, di bawah sebatang pohon yang oleh penduduk setempat dinamaipohon aceh. Nama pohon itulah yang kemudian ditabalkan menjadi nama Aceh.

10. Talson menceritakan, pada suatu masa seorang puteri Hindu hilang, lari dari negerinya, tetapi abangnya kemudian menemukannya kembali di Aceh. Ia mengatakan kepada penduduk di sana bahwa puteri itu aji, yang artinya ”adik”. Sejak itulah putri itu diangkat menjadi pemimpin mereka, dan nama aji dijadikan sebagai nama daerah, yang kemudian secara berangsur-angsur berubah menjadi Aceh.

11. Mitos lainnya yang hidup di kalangan rakyat Aceh, menyebutkan istilah Aceh berasal dari sebuah kejadian, yaitu istri raja yang sedang hamil, lalu melahirkan. Oleh penduduk saat itu disebut ka ceh yang artinya telah lahir. Dan, dari sinilah asal kata Aceh.

12. Kisah lainnya menceritakan tentang karakter bangsa Aceh yang tidak mudah pecah. Hal ini diterjemahkan dari rangkaian kata a yang artinya tidak, dan ceh yang artinya pecah. Jadi, kata aceh bermakna tidak pecah.

13. Di kalangan peneliti sejarah dan antropologi, asal-usul bangsa Acehadalah dari suku Mantir (Mantee, bahasa Aceh) yang hidup di rimba raya Aceh. Suku ini mempunyai ciri-ciri dan postur tubuh yang agak kecil dibandingkan dengan orang Aceh sekarang. Diduga suku Manteu ini mempunyai kaitan dengan suku bangsa Mantera di Malaka, bagian dari bangsa Khmer dari Hindia Belakang.

Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan kita tentang Aceh yang merupakan sebuah negeri yang unik dalam sejarah sepanjang Abad. [aceh dalam sejarah]

Sejarah Munculnya Ganja di Aceh

tanaman ganja
AcehXPress.coBerdasarkan tinjauan historis, tanaman ganja pertama kali ditemukan di daratan Cina pada tahun 2737 SM. Masyarakat Cina kuno telah mengenal dan memanfaatkan ganja dalam kehidupan sehari-hari sejak zaman batu. Masyarakat Cina menggunakan mariyuana untuk bahan tenun pakaian, obat-obatan, dan terapi penyembuhan seperti penyakit rematik, sakit perut, beri-beri hingga malaria.

Menurut sejarahnya, ganja dibawa ke Aceh dari India pada akhir abad ke 19 ketika Belanda membuka perkebunan kopi di Dataran Tinggi Gayo. Pihak penjajah itu memakai ganja sebagai obat alami untuk menghindari serangan hama pohon kopi atau ulat pada tanaman tembakau. Walau Belanda yang membawanya ke dataran tinggi Aceh, namun menurut fakta yang ada, tanaman tersebut bukan berarti sepenuhnya berasal dari negaranya. Bisa jadi tanaman ini dipungut dari daratan Asia lainya. Di kalangan anak muda nusantara, ganja lebih familiar disebut bakong ijo, gelek, cimeng atau rasta. Sementara sebutan keren lainya ialah tampee, pot, weed, dope.

Setelah bertahun dan tumbuh menyebar hampir di seluruh Aceh, ganja mulai dikonsumsi, terutama dijadikan ‘rokok enak,’ yang lambatlaun mentradisi di Aceh. Bahkan kalau ada masakan, dianggap belum sempurna kalau bumbunya tidak dicampur dengan biji ganja. Tradisi ini memang sulit dihilangkan atau diberantas.

Soal ganja, pasti tak luput Aceh. Namun klaim itu tak bisa serta merta disambut negatif, karena memang benar adanya. Bahkan ada klaim bahwa tanah 1001 rencong ini juga dikenal sebagai produsen ganja terbesar di Asia Tenggara setelah Thailand. Hampir di setiap jengkal belantara Aceh dihiasi tanaman ganja. Tak pelak, isu Aceh sebagai penghasil tanaman ajaib ini bahkan sudah mendunia. Sampai-sampai dalam sidang ke 49 Komisi Narkoba PBB (UN Commission on Narcotic Drugs) pada tanggal 13-17 Maret 2006 di Wina Austria, turut dibahas tentang fenomena ini. Konon lagi anggapan masyarakat internasional bahwa Aceh sudah memiliki trade mark sebagai ‘ladang ganja’ terbesar sekaligus penyuplai ganja berkualitas nomor wahid.

Menjamurnya tanaman ganja di Aceh sangat didukung oleh kondisi geografis, tanahnya juga subur, hujan teratur, dan posisi pegunungan dengan iklim yang relatif stabil, ditambah lagi keterisolasian akibat konflik sejak zaman Belanda, DI-TII sampai era GAM. Nah, masyarakat yang berada di daerah terpencil terancam kelaparan dan kemiskinan akibat konfliknya. Warga berinisiatif menanam ganja untuk bertahan hidup.

Hampir tak ada orang Aceh yang tak pernah mencicipinya, ada yang menikmatinya via rokok ternikmat, bumbu dapur, dodol, campuran kopi, hingga diolah ke berbagai jenis makanan lainya, selebihnya dijual ke luar Aceh.

Mengapa ganja dilarang? Inilah yang harus dimengerti masyarakat luas. Padahal berbagai kampanye telah dilakukan, bahkan pemerintah sendiri telah mengeluarkan undang-undang tentang larangan proses produksi, distribusi sampai tahap konsumsi ganja. Undang-undang No. 22 1997 tentang narkotika mengklasifikasikan ganja; biji, buah, jerami, hasil olahan atau bagian tanaman ganja termasuk damar ganja dan hasil sebagai narkotika golongan I yang berarti satu kelas dengan opium dan kokain.

Pasal 82 ayat 1 butir a UU tersebut menyatakan bahwa mengimpor, mengekspor, menawarkan untuk dijual, menyalurkan, menjual, membeli, menyerahkan, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, atau menukar narkotika golongan I, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama dua puluh tahun dan denda paling paling banyak satu milyar rupiah.

Di Aceh, dulu dijual bebas di pasar, digantung-gantung di kios, di gerobak-gerobak penjaja sayur. Ganja mulai dilarang ketika Hoegeng menjadi kepala pemerintahan Kolonial Belanda untuk wilayah nusantara. Ia ingin tahu penyebab pemuda Aceh bermalas-malasan yang dinilai merugikan ekonomi Kerajaan Belanda. Lalu dia menyamar, pergi ke kampung-kampung dan ditemukanlah jawabannya: karena mengisap ganja.

Di luar negeri, ganja dibedakan menjadi dua bagian, yaitu ganja untuk kepentingan industri maupun medis yaitu ganja jenis Hemp, dan ganja terlarang sering disebut Cannabis. Sementara di Indonesia tidak mengenal perbedaan ini, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 disebutkan bahwa ganja termasuk sebagai narkotika saja.

Salah satu sebab mengapa ganja menjadi tumbuhan terlarang adalah karena zat THC. Zat ini bisa mengakibatkan pengguna menjadi mabuk sesaat jika salah digunakan. Sebenarnya kadar zat THC yang ada dalam tumbuhan ganja dapat dikontrol kualitas dan kadarnya jika ganja dikelola dan dipantau dengan proses yang benar.
http://www.blogger.com/img/blank.gif


Dalam penelitian meta analisis para ahli dari Universitas Cardiff dan Universitas Bristol, Inggris, pencandu ganja berisiko schizophrenia, yakni peningkatan gejala seperti paranoid, mendengar suara-suara dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada yang berujung pada kelainan jiwa, seperti depresi, ketakutan, mudah panik, depresi, kebingungan dan berhalusinasi, gangguan kehamilan dan janin.

Kesan Aceh sebagai ladang ganja berkonotasi negatif memang telah mencoreng muka kita semua di mata Internasional. Untuk mengatasi ini, dibutuhkan keterlibatan segenap elemen mayarakat. Mulai dari pemerintah, ulama, cendikiawan aparat penegak hokum hingga orang tua. [acehdalamsejarah.blogspot]
Tapaktuan: Menilik Legenda Kota Naga di Aceh Selatan

Tapaktuan: Menilik Legenda Kota Naga di Aceh Selatan


AcehXPress.coAda sebuah kota yang harus Anda kunjungi ketika berkunjungi ketika berkunjung ke Provinsi Aceh, yaitu kota Tapaktuan. Kota yang terletak di pesisir selatan pantai Aceh ini menyimpan sebuah legenda naga yang menarik dan wisata bahari yang belum banyak diketahui.
Ibu kota Aceh Selatan ini berada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut yang membuatnya beriklim tropis basah. Datanglah ke kota ini dan Anda akan dibuat kagum dengan keindahan alam yang menawan, gugusan pantai berkarang, dan teluknya yang menakjubkan. Di kota ini, terdapat beberapa tempat wisata yang patut Anda kunjungi seperti Pantai Teluk Tapaktuan, Pantai Labuhan Haji, Wisata Air Dingin, Panorama Hatta, Pulau Dua, Genting Buaya, Ia Sejuk Panjupian, Air Terjun Twi Lhok, Batu Berlayar, atau Gua Kalam.
Saat Tsunami tahun 2004, kota dengan luas 92,68 kilometer persegi ini terlindungi oleh Pulau Simeulue. Ombak dahsyat yang menerjang terpecah oleh Pulau Simeulue sehingga berkurang intensitasnya ketika sampai di pesisir pantai. Wilayahnya yang strateis dengan pelabuhan alam menjadikan kota ini basis ekonomi kelautan provinsi Aceh.
Kota dengan penduduk 22,343 jiwa ini juga dikenal dengan sebutan Kota Naga. Nama ini berasal dari sebuah Legenda Putri Naga dan Tuan Tapa. Legenda ini menceritakan tentang sepasang naga yang tinggal di sebuah teluk yang kini menjadi Tapaktuan. Kedua naga ini diusir dari Tiongkok karena tidak memiliki anak. Suatu ketika kedua naga ini menemukan sesosok bayi perempuan terapung di lautan yang kemudian mereka besarkan dengan kasih sayang hingga bayi tersebut tumbuh menjadi gadis yang cantik.
Suatu ketika, sebuah kapal dari kerajaan Asralanoka di India Selatan datang mencari bayinya yang hilang dan jatuh ke laut 17 tahun yang lalu. Ketika sang raja mengenali gadis itu sebagai bayinya yang hilang, ia meminta kepada naga untuk mengembalikannya, namun sepasang naga itu menolak dan timbul perkelahian diantara mereka.
Perkelahian di lautan tersebut rupanya mengusik seorang petapa yang tinggal dan bertapa di Gua Kalam. Petapa yang dikenal dengan nama Tuan Tapa tersebut kemudian segera melerai perkelahian mereka dan meminta sepasang naga untuk mengembalikan sang gadis. Namun kedua naga tersebut menolak dan menantang Tuan Tapa untuk bertarung. Maka terjadilah perkelahian di laut yang membuat kedua naga tersebut kalah. Gadis tersebut kemudian dikembalikan kepada orang tuanya.
Gadis tersebut kemudian mendapat julukan Putri Naga dan kembali bersama orang tuanya. Namun mereka tidak kembali ke kerajaan Asralanoka dan memilih untuk menetap di pesisir. Mereka inilah yang diyakini menjadi cikal bakal masyarakat Tapaktuan.
Naga jantan mati dengan tubuh hancur berserakan dan darah berceceran. Hati dan tubuh naga yang hancur menjadi batu-batuan hitam berbentuk hati yang kini dikenal sebagai Batu Itam, Anda bisa melihat bekasnya di sisi pantai. Darah naga yang membeku juga menjadi batu yang kemudian dikenal sebagai Batu Merah. Sisa pijakan kaki Tuan Tapa juga masih terlihat di pinggir pantai, sementara itu tongkat dan sorbannya juga membatu beberapa ratus meter dari kedua tapak kaki sang petapa.
Naga betina yang melihat pasangannya tewas mengamuk dan membelah sebuah pulau menjadi dua yang sekarang disebut sebagai Pulau Dua. Sedangkan pulau terbesar dihancurkan hingga menjadi 99 buah pulau kecil yang kini menjadi gugusan pulau yang disebut sebagai Pulau Banyak.
Tuan Tapa diceritakan meninggal pada Ramadhan tahun 4 Hijriyah. Jasadnya dimakamkan dekat Gunung Lampu di depan Mesjid Tuo, Gampong padang, Kelurahan Padang, Kecamatan Tapaktuan. Makam keramat tersebut masih ramai oleh peziarah dari dalam dan luar negeri.
Tak ada lagi yang lebih menyenangkan dari berlibur sambil melihat sisa-sisa legenda yang berusia tua. [merdeka]

Kategori

Kategori