Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Menguak Hari Ibu, Makna dan Hakikat

ilustrasi
Oleh : Irwan Syarif

ACEHXPress.com | Tak ada manusia yang terlahir tanpa seorang ibu, kelahiran anak tanpa ayah adalah biasa terjadi, tetapi setiap anak pastilah dilahirkan oleh ibu inilah yang sungguh luar biasa. Selain itu perjuangan ibu dalam melahirkan putra-putrinya tidak mengenal lelah dan hanya ada dua pilihan yakni hidup atau mati. 

Jika mendengar perkataan hari ibu, maka akan terbayang dalam ingatan kita sosok seorang ibu yang telah melahirkan kita kedunia ini. Masih terlintas dalam ingatan kita suara ibu yang kerapkali memanggil nama kita waktu masih kecil mulai dari bangun tidur sampai saat kita ingin tidur kembali. Sungguh tak pernah lepas suara ibu yang memanggil nama kita, betapa indahnya suara panggilan ibu.

Momentum "Hari Ibu secara nasional yang jatuh pada hari ini senin tanggal 22 Desember 2014, mengingatkan kembali kepada kita bahwa betapa besar perjuangan dan jasa-jasa seorang ibu.

Ibu bukanlah semata-mata hanya bisa melahirkan saja tetapi lebih dari itu,  ibu telah melahirkan sosok generasi penerus yang akan datang, melahirkan pemimpin-pemimpin besar, pemimpin agama, bangsa dan negara ini. Tanpa ibu mustahil semua itu bisa terwujud.

Selain itu, hari ibu juga dapat dimaknai dalam konteks sekarang ini yaitu revitalisasi terhadap eksistensi kaum perempuan untuk dihargai dan dijunjung tinggi. 

Betapa banyak persoalan-persoalan yang ada dimasyarakat justru merendahkan harkat dan martabat perempuan. Kasus kekerasan terhadap perempuan misalnya, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pemerkosaan, pelecehan seksual sampai dengan pembunuhan tidak sedikit yang dialami oleh kaum hawa ini.

Meskipun undang-undang sudah memberikan peluang yang cukup besar terhadap kaum perempuan seperti hukum negara telah mengatur penghapusan diskriminasi, penyetaraan gender, hak-hak untuk ber-organisasi, pengakuan dan perlindungan hak politik perempuan, bahkan perempuan juga merupakan bahagian penting dalam pengambilan keputusan sebagai konsekuensi negara demokrasi, tetapi masih tetap saja ada celah yang menghantarkan kaum perempuan untuk dipolitisir dan dimanipulasi.

Oleh karena itu melalui momentum "Hari Ibu" mari kita renungkan kembali makna dan hakikat hari ibu yang setiap tahunnya diperingati.

Mari kita hormati dan senantiasa berbuat baik kepada ibu, kita berpartisipasi dalam mewujudkan kesejahteraan ibu sebagai perempuan yang sangat mulia sehingga kita bisa selamat dalam kehidupan "Dunia dan Akhirat" kelak, amiin. (*) 

|kabarindonesia

Kekhawatiran Hasan Tiro Kini Terbukti?

Oleh: Murthalamuddin

JUMAT kemarin saya bertemu Sulaiman Bombai alias Toke Man Bombai dan Teungku Ramli, mantan ketua Fraksi Partai Aceh di DPR Aceh periode 2009-2014. Kami memang sudah janjian beberapa hari lalu.

Sulaiman adalah orang Aceh yang sudah menetap di Malaysia. Ketika kami bertemu, ia baru saja kembali dari negerinya di Malaysia. 

Kami janjian bertemu di Medan. Dari Banda ke Medan mereka naik bus. Mereka teman baik saya sejak beberapa tahun lalu. Setiap saya ke Malaysia mereka lah yang paling sering menjamu saya. Saya malah sempat beberapa kali ke rumah Toke Man di Kubang Gajah. Di rumah beliaulah kami beberapa kali duduk rapat paskapenandatanganan MoU Helsinky. Kami sering dijamu makan besar. Sepanjang saya kenal keduanya adalah orang-orang di garda depan dalam membantu "perjuangan".

Saya menjemput mereka di Mess Perwakilan Aceh di Pattimura, Medan. Kami ngopi di Sunrose. Kedai kopi gayo milik Haryanto Tan. Saya ingin mengenalkan keduanya dengan Haryanto. Saya juga ingin Toke Man dan Ramli melihat bagaimana Haryanto yang orang Cina itu punya kepedulian besar terhadap Aceh.  

Teungku Ramli dan Sulaiman juga pedagang yang cukup sukses di Malaysia. Di Aceh, Sulaiman duduk sebagai Dewan Pengawas di Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA). Ini adalah perusahaan plat merah yang didanai oleh APBA.   

Di kedai Tan kami berbincang banyak hal sebelum saya mengantar keduanya ke pesta kerabat mereka di Tandem jalan ke arah Binjai. Yang pertama mereka tanyakan ke saya malah masalah berita yang dimuat media online ATJEHPOST.Co ini. Terkait kritikan terhadap penanganan bencana dan pembagian kekuasaan antara gubernur dengan wakil gubernur.  

Saya malah menertawai mereka. Pasalnya setahu saya mereka adalah orang di sekeliling kekuasaan. Bahkan di masa perjuangan dulu mereka adalah garda terdepan perjuangan di negeri seberang. 

Saya balik bertanya kepada mereka kenapa semua ini harus terjadi. Mengapa mereka membiarkan hal ini tetjadi. Kenapa sekarang membiarkan kekuasaan di tangan mereka menjadi begitu liar. Bahkan menyakiti rakyat dan teman seperjuangan. Ketika pertanyaan itu bertubi-tubi saya tanyakan mereka langsung bermuka masam. Teungku Ramli-lah yang pertama angkat bicara. 

"Saya hanya ingin menceritakan sebuah hal kepada kamu tentang kejadian di Kamp Tajura Libya menjelang latihan kami selesai," kata Ramli dengan mata menerawang, memutar ingatan ke masa lalu sekitar penghujung tahun 1980-an. 

Kisah itu terjadi menjelang shalat Jumat. Seperti biasa, almarhum Teungku Hasan di Tiro menjadi khatib setiap Jumat. Ketika itu, dari sekitar 800 penghuni kamp hanya sedikit yang ikut salat. Penghuni kamp bukan hanya asal Aceh tapi juga dari Bangsamoro Filipina dan dari bangsa lain. Alasannya menjelang jumat air di mesjid tidak ada. Sehingga ramai yang kembali ke kemah masing-masing.  Selesai ritual Jumatan Wali Hasan Tiro  memerintahkan semua warga asal Aceh kumpul ke mesjid. Kebetulan saat itu sejumlah petinggi GAM juga sedang di Tajura.  

"Wali berpidato sampai sore di mesjid, dengan berurai air mata Wali menerangkan kepada mereka bagaimana pahitnya perjuangan ke depannya," kata Ramli. 

Ramli pun mengutip sepotong kalimat Wali yang masih membekas diingatannya. "Na gata-gata kira padim phet para pemimpin yang ka syahid demi perjuangan nyoe, sementara gata cuma karena persoalan ubit malah hana peukong jamaah (adakah kalian pikirkan betapa pahitnya para pemimpin yang syahid demi perjuangan ini, sementara kalian cuma karena persoalan kecil malah tidak memperkuat jamaah)."  

Saat itu Wali menyebut satu persatu sahabatnya yang telah syahid seperti dr Muktar, dr Zubir dan yang lain.  Saking kesalnya, kata Ramli, Wali melempar bundelan buku catatannya ke depan Bakhtiar Abdullah, salah satu pembantunya. "Baktiar, bileueng padim abeh biaya untuk gata2 nyoe jak keunoe? (Bakhtiar, hitung berapa habis biaya untuk kalian dikirim ke sini).  

Hasan Tiro menegaskan mereka dibawa ke sana untuk mengenal dirinya selaku orang Aceh.  "Bila bangsa lain menulis heroismenya dalam kisah fiksi atau dalam cerita legenda nenek moyang, kalian melukiskan heroisme dalam kisah nyata dan dicatat oleh bangsa-bangsa besar di dunia. Bahkan bangsa kita adalah bangsa terhormat dalam pergaulan dunia. 

Kita tercatat sebagai bangsa yang turut mengakui sejumlah kemerdekaan bangsa-bangsa di Eropa," kata Ramli mengutip ucapan Hasan Tiro saat itu.  

Yang diingat Ramli, ketika itu Hasan Tiro dengan berurai air mata sangat khawatir mereka, para anak didiknya, belum pantas menjadi pemimpin. "Bagaimana kalian memimpin bangsa kalian sementara memimpin diri sendiri saja kalian tidak mampu?."  

Ramli pun teringat kondisi Aceh saat ini. Ramli mengaku sedih melihat pemimpin pemerintahan Aceh  hari ini yang menurutnya jauh dari nilai-nilai yang di ajarkan wali kepada mereka."Sepertinya kekuatiran Wali sudah terlihat jelas sekarang," katanya seraya menghela nafas panjang.  

Sulaiman alias Toke Man, punya cerita lain. Menjelang penandatangan MoU Helsinki, 11 tokoh perjuangan dari Malaysia berangkat mengunjungi Wali ke Swedia. Diantaranya Teungku Radak, Sulaiman, dan Teungku Ramli.  

Setelah beberapa hari di sana, pada satu kesempatan tinggallah mereka bertiga di apartemen Wali. Teungku Radak masih famili dekat Wali.  

Ketika mereka sedang berbincang bersama Wali, datang telepon dari pertugas apartemen yang mengatakan ada yang ingin menemui mereka. Diantara tamu itu ada yang bernama Usman yang tak lain adalah menantu Teungku Radak.  

Usman sudah beberapa tahun menetap di Swedia karena mendapat suaka. Tapi Usman tidak sepaham dengan Wali dalam soal perjuangan. Ia ikut barisan sempalan. Setelah menerima telepon dari petugas apartemen, Teungku Radak mohon izin kepada Wali agar menantunya itu diperbolehkan naik dan menemuinya.  

Saat itu Wali sedang serius membaca poin-poin isi perundingan RI dan GAM. Dengan wajah serius wali berujar "lon peugah bak gata-gata, lam perjuangan nyoe hana syedara atau keluarga. Meunyoe gata nak meureumpok melintee sideh di Tai Ping (nama daerah tempat tinggal Teungku Radak di Malaysia). Sinoe tempat bagi yang meusuetia ngon  perjuangan (saya jelaskan kepada kalian, dalam perjuangan ini tidak ada istilah saudara atau keluarga, kalau mau bertemu menantu di Tai Ping, di sini tempat bagi yang setia dengan perjuangan)." 

Dari sanalah Sulaiman melihat bagaimana prinsip tegas Hasan Tiro dalam soal perjuangan. "Bahkan beliau sangat anti KKN," kata Sulaiman.  

Dari cerita Teungku Ramli dan Sulaiman, jelaslah bagaimana Hasan Tiro membangun fondasi perjuangan demi martabat Aceh.  

Nah, sekarang silahkan anda melihat perilaku pemimpin kita hari ini. Bila anda ke Meuligoe, rumah dinas Gubernur Aceh Zaini Abdullah saat ini, maka anda boleh melakukan survei bahwa semua penghuni baru sejak rezim ini menempati Meuligoe, saya yakin semua punya hubungan keluarga atau satu kampung. Mulai tukang lap, sampai staf khusus.  

Ini fenomena yang sangat menarik: ada penguasa yang begitu memberdayakan keluarganya bahkan dengan memusuhi rekan seperjuangannya.  

Mungkin wali punya ilmu laduni sehingga menurut Sulaiman dan Ramli berkali-kali Wali khawatir bagaimana mereka akan memimpin Aceh jika suatu hari perjuangan itu sukses.

Ternyata, baru di ambang sukses perilaku orang kepercayaannya jauh di atas prediksi banyak orang. Bahkan  dari cara berpakaian pun melebihi pejabat dari Jawa sana dalam mencintai batik. Bila ada penghargaan kecintaan memakai batik, saya kira beliau pantas diberi gelar melebihi Datuk Sri. [atjehpost.co]


Penulis adalah mantan kepala Biro Humas Provinsi Aceh

Menakar Masalah Gizi Buruk



Oleh :
Datuk Haris Molana




Berbicara polemik di Negeri ini, tidak akan pernah habisnya kalau dibicarakan. Rasanya semua masalah ada. Salah satu yang sangat ironis dan memilukan hati tatkala kita melihat seorang manusia dengan tubuh ringkih, amat sangat kurus, tinggal tulang terbalut kulit akibat mengalami penderitaan gizi buruk.

Tiada lagi keceriaan di wajahnya, terbaring lemah dengan berbagai penyakit yang menerpa organ tubuhnya. Lidahnya hanya kelu, ketika segala harapan ingin dia ungkapkan tentang apa yang sedang ia alami. Namun, Hati kita tambah miris, Ketika mendengar orang berkomentar saling menyalahkan, bukan mencari solusi masalah yang dihadapi bangsa ini.

Gizi buruk
Kasus gizi buruk yang kita saksikan di berbagai wilayah negeri ini seharusnya mampu membangunkan kita untuk melihat lebih jelas dan lebih jernih. Bahwa manusia sebagai sumber daya untuk masa depan ternyata mempunyai masalah yang sangat besar. Disini, semua kita harus bertanggungjawab, mari kita cari solusi, bukan mempersoalkan siapa yang salah. Gizi buruk adalah suatu keadaan akhir (terminal) dari suatu proses panjang yang dimulai dari janin di dalam kandungan ibunya.
Mempersoalkan keadaan hilir, tanpa mencari solusi keadaan hulunya akan membuat kita saling melontarkan kesalahan kepada pihak diluar kita. Menurut Standard Pelayanan Minimal, cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak Balita dan pra sekolah adalah jumlah anak usia 0 – 4 tahun dan 5 – 6 tahun di suatu wilayah kerja yang dideteksi di puskesmas, rumah sakit, balai pengobatan, rumah bersalin maupun praktek swasta paling sedikit dua kali. Bila tidak sesuai dengan standar, seluruh rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan swasta harus melaporkannya ke Puskesmas setempat dan Dinas Kesehatan.

Siapa Salah dan Siapa bertanggungjawab?

Kesalahan yang paling mudah ditujukan  tentunya adalah pemerintah dengan segala perangkatnya. Karena pemerintah disini memiliki andil yang besar membuat generasi bangsa ini mengalami gizi buruk. Menurut Penulis, jikalau pemerintah bisa memberikan lapangan pekerjaan yang layak, serta juga  pemerintah bisa memberi jangkauan terhadap harga-harga kebutuhan sehari-hari, Pastinya gizi buruk dapat di atasi.

Namun, menyalahkan orang lain memang merupakan cara yang paling gampang.  Padahal, seharusnya kita introspeksi mengapa semua ini dapat terjadi dan apa solusi kita agar  memperbaiki segalanya sebelum terlambat. Faktanya, penulis melihat  seringkali kondisi gizi buruk diakibatkan oleh kesalahan gaya hidup dan juga minimnya informasi.

Melihat program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh berbagai departemen/kementerian di Indonesia, misalkan Kementerian Kesehatan telah membuat program pemberian makanan tambahan kepada bayi dan Balita yang mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Belum lagi program berbagai kementerian yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan, seperti Kementerian Sosial dengan berbagai bantuan sosial, keluarga harapan. Namun Penulis disini melihat, dengan adanya berbagai program tersebut, malah menambahkan catatan penderita gizi buruk. Potret Eva Azria (12) seorang bocah penderita gizi buruk asal Kota Lhokseumawe, Aceh yang sedang menjadi isu hangat beberapa saat ini baik dimedia cetak maupun elektronik lainnya pada saat rong-rongan  kemiskinan sedang melanda.

Kita ketahui bersama, program pemerintah seperti Posyandu yang sejak tahun 1985 digelar di seluruh wilayah republik ini merupakan satu-satunya wadah tempat masyarakat bisa mengambil manfaat sebaik-baiknya, ternyata tidak disikapi secara cermat oleh masyarakat, sehingga sampai kini kebanyakan posyandu dianggap hanya tanggung jawab insan kesehatan di lapangan. Padahal, Posyandu yang telah direvitalisasi dan dimodifikasi, merupakan unit strategis dalam menemukan kasus gizi kurang secara dini untuk dapat diantisipasi agar tidak menjadi gizi buruk. Apakah petugas kesehatan harus ‘door to door’ untuk mencari kasus kurang gizi?

Penanganan gizi buruk di rumah sakit bukan satu-satunya jalan keluar dalam mencegah dan menangani kejadian gizi buruk ini. Apakah ada jaminan anak yang sudah keluar dari perawatan rumah sakit, tidak akan jatuh ke kondisi gizi buruk lagi? Tentu saja tidak dapat dipastikan, kecuali ketersediaan pangan di rumah tangga cukup, dan pengetahuan orang tua tentang masalah gizi memadai.

Tak hanya mereka yang ada basic kesehatan, non kesehatan pun semestinya harus bertanggung jawab seperti halnya unsur masyarakat dan organisasi setempat, dengan meningkatkan kesadaran pentingnya penimbangan bulanan untuk mendeteksi kemungkinan adanya gangguan pertumbuhan yang akan menjadi tanda awal terjadinya masalah gizi.

Bila hal ini dapat dilasanakan dengan baik, maka gangguan pertumbuhan dapat diatasi lebih dini dan masalah gizi buruk tidak akan muncul. Harus disadari bahwa anak  merupakan calon generasi penerus bangsa, yang akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa di masa depan. Mungkin karena ketiadaan pangan di rumah tangga, yang apabila dikaji penyebabnya akan sangat banyak dan tidak berkaitan dengan sektor kesehatan. Pengerahan sumberdaya sektor kesehatan saja, hanya akan menjadikan upaya penanggulangan masalah seperti pemadam kebakaran, bukan mempersiapkan agar tidak terjadi kebakaran.

Memaknai reformasi kesehatan
Rancangan reformasi kesehatan apa pun akan terpental jika masyarakat abai terhadap tanggung jawab pribadi atas kesehatan masing-masing. Berdasarkan data pengguna Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), pola penyakit yang menghabiskan dana pemerintah untuk pengobatan adalah kanker, stroke, dan jantung koroner, terkait kebiasaan merokok aktif atau pasif. Anak-anak dengan gizi buruk tinggal di rumah yang dipenuhi kepulan asap rokok.
Reformasi kesehatan yang menempatkan puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan masyarakat tidak membiarkannya hanya sebagai tempat pengobatan Pusiing, Keseleo, dan Masuk angin. Lantas timbul pertanyaan dibenak penulis, apa langkah nyata yang bisa kita lakukan untuk mereka yang mengalami gizi buruk? Di negeri ini, paradoksnya memang luar biasa. Sementara di satu sisi banyak anak yang gizi buruk, tapi tidak sedikit anak yang kelebihan gizi sehingga mengalami obesitas.
Ibu-ibu yang tergolong mampu merasa bangga mengenalkan anak atau cucunya yang kelebihan gizi. Mereka tidak tahu bahwa anak yang obesitas terancam hidupnya oleh penyakit degeneratif. Nah, timbul pertanyaan terkahir dari penulis sebagai kesimpulan. Apa yang akan kita lakukan? Diketahui bersama ternyata sosialisasi dan promosi kesehatan tidak semudah yang difikirkan oleh orang-orang yang selama ini jadi pemimpin. Serta yang terakhir kompetensi petugas puskesmas harus bisa diandalkan, tentu dengan  disertai sistem kompensasi layak berbasis kinerja yang berhasil dicapai.[]


*) penulis adalah, Mahasiswa Hukum pidana Universitas Malikussaleh (UNIMAL), alumni Basri Daham Journalism Institute (BJI)/ AJI Lhokseumawe, saat ini aktif di KSM Creative Minority

Dibalik Penangkapan Tri Juwanda

Tri Juawanda
Oleh: Munawir

SUNGGUH ironis persoalan penangkapan Saudara Tri Juwanda oleh Kapolres Lhokseumawe yang merupakan koordinator unjuk rasa (unras) di PT. Arun di bawah kepemimpinan Bapak Jokosuracmanto. Opini ini saya tulis dalam bentuk kronologis kejadian dengan tujuan untuk meluruskan isu yang berkembang tentang kasus tersebut dengan tidak melihat pada subtansi tuntutan peserta unras karena keterbatasan informasi yang saya dapatkan terkait dengan persoalan terserbut. Singkat cerita, kronologisnya kurang lebih seperti ini, pada tanggal 10 Oktober 2014 ada sebahagian masyarakat yang mengatasnamakan perwakilan dari Ikatan Keluarga Blang Lancang (IKBAL) mendatangi kesekretariatan Himpunan Mahasisa Islam Cabang Lhokseumawe dan Aceh Utara sekitar pukul 11:00 wib. Kedatangan mereka bermaksud untuk meminta bantuan kepada HMI agar HMI mendampingi mereka dalam melakukan unras dan advokasi terkait tuntutan masyarakat kepada Pihak pertamina untuk merealisasikan pemukiman yang pernah di janjikan pada tahun 1974 sebanyak 542 KK. Hasil pertemuan tersebut terjadi kesepakatan antara HMI Cabang Lhokseumawe dan IKBAL untuk melakukan unras di depan PT. Arun.

Berdasarkan hasil kesepakatan tersebut maka pada tenggal  15 Oktober 2014 pukul 10.00 WIB masyarakat yang mengatasnamakan IKBAL dan HMI turunlah kedepan pintu gerbang PT. Arun untuk melakukan unras damai di desa Blang Lancang Kec. Muara Satu Pemerintahan Kota Lhokseumawe. Unras tersebut berjalan dengan lancar dan damai tidak ada keributan maupun penangkapan terhadap siapapun sampai unras itu dibubarkan pada pukul 14:00 wib. Namun IKBAL tetap bertahan di bawah tenda darurat yang didirikan di simpang empat jalan menuju ke PT. Arun. Unras pertama, kedua dan ketiga berjalan dengan tertib dan aman walaupun unras yang ketiga sempat terjadi ketegangan antara peserta unras dengan pihak kepolisian. Unras tesebut dilakukan pada tgl 15, 16 dan 21 Oktober 2014, sedangkan unras  ketiga dilakukan di kantor wali kota lhokseumawe yang sempat terjadi ketegangan walaupun belum sampai pada tahap penangkapan. Unras ketiga berlangsung lama mulai pukul 10:00 s/d 18:00 wib kurang lebih tujuh jam, setalah unras berlangsung dan selesai masyarakat kembali ketenda darurat yang didirikan di simpang emapat jalan menuju komplek Perusahaan PT. Arun.

Karena unras pertama, kedua, dan ketiga belum ada kepastian dari pihak PT. Arun, maka IKBAL dan HMI kembali melakukan unras di depan Komplek Perumahan PT. Arun pada tanggal 27 oktober 2014 pada pukul 10:15 s/d pukul 14:00 wib. Nah pada unras keempat inilah terjadi penangkapan Saudara Tri Juwanda pada pukul 12:00 wib oleh pihak kepolisian karena terjadi sedikit pengrusakan terhadap pagar PT. Arun. Lalu Saudara Tri Juwanda langsung diamankan ke mapolres lhokseumawe. Setalah penangkapan berlangsung peserta unras masih bertahan di tempat unras berlangsung, kondisi semakin memanas dan peserta unras terjadi keributan dan saling dorong-mendorang dengan pihak kepolisian. Pada saat itu juga proses negosiasi berlangsung agar Saudara Tri Juwanda dibebaskan kembali oleh pihak kepolisian. 

Dalam proses negosiasi berlangsung terjadilah kesepakatan untuk beraudiensi antara pihak kepolisian dengan IKBAL dan HMI untuk mencari solusi agar Saudara Tri Juwanda bisa dibebaskan. Audiensi tersebut berlangsung lama yang dilakukan di aula mapolres lhokseumawe mulai pukul 14:30 s/d 17:30 wib, kurang lebih sekitar dua jam. Namun pihak kepolisian mendesak masyarakat untuk membongkar tenda darurat yang di pasang oleh IKBAL di simpang empat jalan menuju kompleh Perusahaan PT. Aru NGL Co, kalau tidak mereka tidak bersedia malakukan audiensi. Akhirnya masyarakat memenuhi permintaan pihak kepolisian dengan membongkar tenda darurat agar pihak mapolres lhokseumawe bersedia untuk beraudiensi dengan perserta unras.

Inilah singkat cerita peristiwa penangkapan Saudara Tri Juwanda oleh Pihak Kapolres Lhokseumawe dengan tuduhan delik pengaduan absolut. Terlepas apapun persoalannya, yang pastinya tujuan Saudara Tri Juwanda adalah untuk membela hak-hak rakyat yang pernah dijanjikan oleh perusahaan rakasa pada tahun1974. Walaupun sekarang Tri Juwanda selaku koordinator unras sudah mendekam di Lembaga Penahanan Masayarakat di Mapolres 

Lhokseumawe selama lima hari dan lima malam. Seharusnya pihak kepolisian tidak perlu terlalu membesarkan-besarkan persoalan tersebut karena yang bersangkutan hanyalah seorang mahasiswa dan sedang proses penyelesaian tugas akhir atau skripsi. Kalaupun Saudara Tri Juwanda dikenakkan dengan Pasal 170 tentang pengrusakan, akan tetapi pagar PT. Arun yang dirusak juga tidak terlalu parah hanya sekitar delapan atau sepuluh meter, itupun roboh ketanah dan masih bisa digunakan. Memang benar alasan kepolisian untuk menahan saudara Tri Juwanda agar tidak terjadi pengrusakan yang lebih besar. Akan tetapi pihak kepolisian seharusnya bisa bersikap lebih bijak, sehingga proses penyelesiannya tidak terkesan ada permainan dibelakangnya.

Begitu juga dengan pihak Perusahaan PT. Arun yang mengklaim bahwa Perusahaan tidak pernah membuat laporan keberatan terhadap penangkapan Saudara Tri Juwanda. Mereka sependapat masalah ini harus diselesaikan secara kekeluargaan dan penuh bermartabat. Namun yang anehnya pihak Perusahaan PT. Arun terkesan tidak ada niat untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan. Kalau seandainya Perusahaan PT. Aruni ada niat untuk menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan mereka menyampaikan kepada public bahwa Perusahaan tidak pernah membauat pelaporan keberatan terhadap Saudara Tri Juwanda. Namun sampai dengan saat ini PT. Arun tidak pernah membuat pernyataan yang resmi di media untuk mengcounter pernytaan kepolisian tersbut. Seharusnya pihak PT. Arun harus mengcounter pernyataan kepolisian yang mengatakan bahwa saudara Tri Juwanda sudah diajukan surat keberatan oleh pihak PT. Arun dan dijerat dengan delik pengaduan absolut.

Nah, karena PT. Arun tidak pernah mengcounter pernyataan kepolisian tentang surat pelaporan tersebut, maka dalam hal ini tidak salah disaat ada sebagian masyarakat dan mahasiswa yang mengasumsikan bahwa diantara PT. Arun dan Kepolisian ada yang melakukan pembohongan public dan mencoba untuk mempolitisir kasus ini untuk kepentingan tertentu. 

Namun kita tidak menginginkan hal itu terjadi, karena akibat hal tersebut Saudara Tri Juwanda menjadi korban. Ini sungguh kita sesalkan bila hal tersebut benar-bernar sedang dimainkan oleh pihak PT. Arun maupun Kepolisian. Saya rasa akibat pengrusakan pagar PT. Arun oleh peserata unras tidak seberapa besar bila dibandingkan dengan asset dan pendapatan perusahaan raksasa tesebut. Dalam hal ini Kapolres Lhokseumawe harus langsung mengambil sikap untuk bisa membebaskan Saudara Tri Juwanda. Bila tidak, saya khawatir akan ada gejolak besar dikalangan Mahasiswa dan Masyarakat untuk menyikapi hal tersebut, bukan hal yang tidak mungkin Mahasiswa akan melakukan demo besar-besaran untuk menyikapai hal tersebut. Seperti unras simpati yang akan dilakukan oleh Mahasiswa seluruh Aceh di setiap kapolres masing-masing untuk menuntut pembebasan terhadap Saudara Tri Juwanda. Atau bisa jadi unras pengumpulan koin oleh mahasiswa dari Masyarakat yang nantinya akan diserahkan kepada PT. Arun untuk mengganti pagar tersebut, atau bisa juga koin tersebut diserahkan kepada pihak Kapolres Lhokseumawe agar Kapolres Lhokseumawe segera membebaskan Saudara Tri Juwanda.

Akhirnya saya berharap kepada pihak PT. Arun untuk mencabut surat laporan keberatan terhadap Saudara Tri Juwanda bila memang Perusahaan telah melayangkan surat tersebut. Namun bila perusahaan tidak melayangkan surat tersebut maka pihak kapolres lhokseumawe harus langsung membebaskan Saudara Tri Juwanda agar kecaman dan hal-hal yang tidak diinginkan tidak akan terjadi di kemudian hari. Wassalam. []

Penulis adalah Demisioner BEM-FE Unimal dan Katua Bidang Perguruan Tinggi dan Kepmudaan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Lhokseumawe dan Aceh Utara (KABID. PTKP HMI Cabang Lhokseumawe dan Aceh Utara).

“Pencitraan” yang Populer


Aliya Nurlela
Oleh: Aliya Nurlela

AKHIR-AKHIR ini telinga kita (masyarakat) dibuai oleh sebuah kata yang tiba-tiba populer, yaitu “pencitraan.” Sebelumnya, kata tersebut belum memasyarakat dan terkesan masih asing untuk diterapkan dalam pembicaraan keseharian. Namun menjadi dikenal sejak ajang pilpres digelar. Kata pencitraan menjadi pembicaraan sehari-hari di media—baik cetak maupun elektronik—dan menjadi bahasa yang populer di kalangan masyarakat. Kata pencitraan pun tidak lagi menjadi kata yang asing, justru menjadi sebuah kata yang sangat akrab di telinga.

Apa sih sebenarnya arti dari kata pencitraan? Pencitraan berasal dari kata dasar “citra” yang pengertian menurut KBBI adalah rupa; gambar, gambaran. Mencitrakan adalah menggambarkan. Pencitraan memiliki pengertian sebuah upaya untuk memberikan kesan menonjol/positif di mata publik. Jadi bisa diartikan bahwa pengertian dari pencitraan ini mengandung makna “seolah-olah” seseorang memiliki citra yang baik, padahal itu hanya “tipuan” atau mengesankan semata.

Pencitraan selalu dikaitkan dengan para politisi, yang cenderung berubah sikap  tiba-tiba di saat menjelang pemilu. Tujuannya memikat hati rakyat dengan cara memperbaiki citra di mata publik. Tak heran, masyarakat akan dikejutkan dengan berbagai pencitraan dari orang-orang yang sebelumnya tidak pernah berlaku demikian, terutama jauh sebelum mencalonkan jadi apa pun. Tak heran juga kalau telinga masyarakat makin akrab mendengar cibiran-cibiran negatif atas sebuah tindakan yang dianggap pencitraan. Setiap ada calon-calon pemimpin/wakil rakyat melakukan kebaikan yang diliput media, serta merta akan dituding sebagai pencitraan semata. Hingga, media tak lagi dipercaya dan nilai pemberitaan media jadi bergeser.


Benarkah pencitraan hanya dilakukan oleh para politisi saja? Tidak benar. Di era digital, semua orang berpotensi melakukan pencitraan, sebab medianya sudah ada. Tulisan sependek apa pun bisa langsung dikonsumsi publik. Seperti misalnya status di facebook atau twitter. Satu kalimat pernyataan yang kita buat bisa langsung diposting di media sosial dan dibaca oleh banyak orang dari berbagai belahan dunia. Tulisan yang kita buat bisa saja hanya berupa pencitraan pribadi diri kita, agar dikenal publik sebagai orang yang selalu berlaku positif di setiap keadaan. Contoh status yang berpotensi dianggap sebuah pencitraan oleh pembaca, “alhamdulillah...saya selalu semangat setiap hari dan mengerjakan tugas-tugas sesuai target. Siap-siap disayang semua orang, termasuk mama-papa, om-tante dan Sang Pencipta.”


Para pengguna media sosial juga bisa dengan mudah menggunggah foto-fotonya saat melakukan kebaikan-kebaikan; seperti menjelang salat jumat, buka bersama, umroh, haji, menyumbang panti asuhan dll. Banyak foto-foto yang diunggah ke media sosial dan berpotensi dianggap pencitraan semata. Misalnya seseorang yang berangkat ke tanah suci dan menggunggah fotonya saat beribadah di sana, lalu menyertakan sebuah tulisan pendek “Air mata ini mengalir deras saat melantunkan asma-Mu di tanah suci. Ya Allah, terima kasih telah Kau kabulkan hajat ini.”


Kehadiran media sosial bisa dianggap ruang hingar-bingar yang memungkinkan bagi siapa saja untuk melakukan upaya-upaya pembuktian keeksisan. Sebelum tahun 90-an, tulisan dan foto-foto berada di ruang sunyi, hanya tersimpan di buku diary atau album. Tapi zaman telah berubah dan tekhnologi berkembang demikian pesat, hingga yang dulu tersembunyi menjadi terbuka. Kita dengan mudah bisa membaca berita terbaru setiap saat. Apa yang terjadi di luar dunia kita, menjadi sangat mudah untuk diketahui, termasuk kegiatan-kegiatan keseharian teman dll.


Pertanyaannya, apakah salah orang berbuat baik lalu membiarkan media meliput atau sengaja mempostingnya di media sosial? Di era digital ini saya kira sah-sah saja. Kehadiran media sosial ibarat pisau bermata dua—bisa dipakai ajang menyebarkan fitnah, provokasi, pornografi dll dan bisa juga dipakai ajang menyebarkan kebaikan. Tinggal si pengguna mau bersikap seperti apa. Kalau para pengguna media sosial yang menyebarkan kebatilan dibiarkan dan diberi lahan seluas-luasnya (tanpa sensor), maka secara otomatis pengguna yang menyebarkan kebaikan pun, dibolehkan. Dengan demikian media itu menjadi “milik” bersama, siapa pun berhak menuliskan apa saja dan mengunggah foto apa saja. Siapa pun berhak mengomentari dan menanggapi karena dunia hingar-bingar adalah dunia terbuka. Kenal ataupun tidak memiliki hak yang sama untuk berkomentar.


Namun sangat memprihatinkan ketika cibiran-cibiran negatif soal pencitraan ini mencuat (saat pilpres), bahkan dijadikan pernyataan massal/berjamaah yang sifatnya untuk diyakini publik agar ikut meyakini hal tersebut. Bagi masyarakat yang tidak suka dengan fitnah, provokasi dan embusan-embusan yang menimbulkan keresahan tidak akan latah mengikut sebuah pernyataan. Sekali lagi ini dunia hingar-bingar yang siapapun boleh menilai dan berpendapat. Tapi disadari atau tidak secara otomatis hal ini pun mengaburkan makna kebaikan/amal saleh. Siapapun yang berbuat kebaikan, tidak lagi dianggap ketulusan dan akan dihakimi sebagai pencitraan. Para pelaku kebaikan akan dicibir, dianggap pamer, cari muka, jaga imej dan menjadi pretensi buruk bagi hubungan persaudaraan atau pertemanan. Dampaknya orang menjadi takut untuk berbuat baik. Hingga yang tersisa di media adalah pemberitaan-pemberitaan pembunuhan, perkosaan, mutilasi, penjambretan dan kebatilan-kebatilan lainnya. Demikian juga di media sosial, bisa saja hanya menjadi ajang fitnah, provokasi, perdebatan dan posting foto-foto tak bermoral.


Menghakimi perbuatan baik yang dilakukan orang lain adalah sebuah kemunduran. Apalagi sampai menafsiri niat ibadah-ibadah yang dilakukan orang tersebut—yang sebenarnya itu murni wilayah hubungan dia dan tuhannya—tak sedikit pun orang lain berhak ikut campur, mengintervensi dan memvonis dengan menganggapnya pencitraan. Soal niat bukan urusan orang lain dan tak sedikit pun berhak menghakimi. Kebiasaan menghakimi orang lain ini bisa saja menjadi bumerang atau senjata makan tuan bagi pelakunya. Ketika si pelaku berbuat hal yang sama (meskipun itu tulus dan nyata) orang akan mencibir juga dan menganggapnya sebagai pencitraan. Apalagi kalau dia terkenal sebagai orang yang sangat giat dan  aktif menghujat kegiatan-kegiatan/karya-karya orang lain.


Sangat disayangkan, kata “ikhlas” telah tergeser oleh populernya kata “pencitraan”. Bagi masyarakat yang mudah latah dan tidak memiliki filter untuk menyaring informasi yang masuk, maka kemungkinan besar terjebak dalam euforia statement ini. Krisis kepercayaan rawan sekali terjadi. Tak mudah lagi memercayai kebaikan yang dilakukan orang lain, tokoh masyarakat, ulama, guru, bahkan kebaikan orangtua pun memungkinkan dinilai pencitraan.


Sejatinya, tuduhan pada orang lain kalau itu tidak benar adanya maka namanya fitnah. Sedangkan jika yang dituduhkan itu benar adanya maka bukan wilayah manusia menafsiri niat-niat yang tersembunyi dan menyibukan dalam hal itu, hingga mengurangi amal baik diri-sendiri dan jatuh pada status pencela.


Kita tidak bisa lepas dari dampak berkembangnya tekhnologi dan zaman keterbukaannya, cepat atau lambat berita seburuk apa pun bisa kita terima kalau secara gencar terus diembuskan. Cara berpikir kita akan berubah, malas melakukan kebaikan dan tidak percaya lagi pada orang-orang yang rajin berbuat baik. Semua perbuatan baik orang lain akan dianggap kedok semata untuk menutupi perbuatan yang sebenarnya. Jika ini terjadi, maka sungguh memprihatinkan. Akan terjadi kemunduran moral dan cara berpikir. Orang akan lebih percaya pada pelaku-pelaku keburukan yang dianggap tidak bersusah-payah melakukan pencitraan dan tampil apa adanya. Orang akan lebih percaya pada para penyebar fitnah yang mengatasnamakan agama dan seolah-olah berdiri untuk kepentingan agama yang hanif, padahal bagi orang-orang yang berpikir secara jernih hal itu sangat tidak rasional. Orang yang membela agama Allah tidak akan pernah sudi terjebak dalam statement-statement kebatilan.


Surga dan keridhaan-Nya hanya berada di tangan Allah semata. Bukan milik golongan/partai tertentu. Bukan milik orang-orang tertentu. Semua orang berpotensi mendapat keridhaan-Nya dan berpotensi juga mendapat murka-Nya. Tak ada yang pantas berbangga diri, merasa aman, dan sangat yakin termasuk orang yang pasti  masuk surga-Nya. Orang yang hari ini sangat saleh sekalipun, di akhir hidupnya belum tentu. Mungkin saja posisinya akan berbalik dengan orang yang kemarin-kemarin sangat banyak melakukan kemakshiyatan. Hanya Allah yang tahu akhir hidup seseorang, apakah husnul khatimah atau suul khatimah.


Beramar ma’ruf dan nahi munkar memang wajib, sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam alqur’an surat Ali-Imran ayat 104. Memperjuangkan kebaikan juga wajib. Namun hendaklah cara-cara yang dipakai dalam mengingatkan dan memperjuangkannya tidak dengan cara-cara yang batil. Fitnah dan provokasi adalah kebatilan. Menghakimi perbuatan baik orang lain juga bisa termasuk kebatilan. Menjadi tak ada beda antara yang beramar ma’ruf dengan pelaku keburukan itu sendiri, dan justru orang berbalik tidak simpatik terhadap pelaku-pelaku amar ma’ruf kalau cara yang dipakai seperti itu. Sikap menghargai hasil karya orang lain dan berbaik sangka dengan niat orang lain adalah ajaran agama yang hanif, yang selayaknya menjadi pegangan bagi orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar.


Sudah saatnya, kita tidak menjadikan sebuah statement sebagai sumber kebenaran. Bagi orang muslim sumber kebenaran yang wajib menjadi pegangan itu sudah jelas. Sudah saatnya juga tidak mudah terjebak dan latah menafsiri perbuatan-perbuatan baik orang lain, sebagaimana halnya kita yang tidak suka ditafsiri. Bahkan alangkah baiknya tidak rutin membaca tulisan-tulisan atau postingan-postingan yang mengarah kepada perpecahan yang mengaburkan makna amal saleh. Seorang bijak berkata, 


“hindari buku-buku/tulisan yang tidak bermanfaat dan menyebarkan kabar-kabar yang tidak jelas kebenarannya.”


Ketika melihat orang lain berbuat baik dan karyanya mendapat penghargaan, sudah seharusnya bukan terjebak sibuk memberikan statement-statement negatif. Hal itu samasekali tidak akan menaikan derajat, justru menurunkan derajat. Lebih arif dan bijaksana, lakukanlah kebaikan-kebaikan yang sama, ciptakan karya-karya yang lebih hebat dan silakan buat pemberitaan seluas-luasnya agar publik tahu dan termotivasi melakukan kebaikan pula. Demikian pula bagi kita yang sudah akrab dengan media sosial, jangan takut dianggap pencitraan dengan sering memposting status-status motivasi dan foto-foto karya sendiri. Soal niat hanya urusan kita dengan Allah dan dengan demikian kita pun telah memperlakukan media sosial sebagai alat yang berguna untuk menyebar kebaikan. Bukankah tidak ada orang yang seumur hidupnya mau berpura-pura baik (pencitraan)? Karena sikap berpura-pura itu sangat melelahkan. 


*) Aliya Nurlela, Pendiri Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
lahir di Ciamis, Jawa Barat. Saat ini berdomisili di dua kota, Malang dan Kediri. Sudah menerbitkan beberapa buku fiksi dan nonfiksi.

Konspirasi Rencana Yahudi Untuk Indonesia Dan Malaysia

Oleh: Susi Aslina

Indonesia tidak akan menoleransi tindakan negara lain yang mengancam kedaulatan, termasuk menggeser tapal batas. Itulah salah satu yang dikatakan Juru bicara Presiden Indonesia pada saat menghadapi konflik pergeseran tapal batas Camar Bulan di Sambas yang diduga telah dicaplok Malaysia pada tahun 2011.

Setelah kian kali, dua Negara serumpun-seakidah ini kembali diributkan persoalan nasionalisme yang sama sekali tidak diajarkan ulama-ulama Melayu tempo dulu.

Kita harus membuka mata bahwa konflik antara Malaysia dan Indonesia ini tidak terjadi dengan sendirinya. Ada unsur-unsur pemicu layaknya api yang menimbulkan asap besar. Pertanyaannya siapakah pemantik api itu? Umat Muslim? Bukan, karena kita hanya korban. Pakar Melayu Prof. Dr. Dato’ Nik Anuar Nik Mahmud dari Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) mengamini bahwa ada intervensi pihak luar di balik perseteruan kedua Negara serumpun muslim ini. 

Memoar Thomas Raffles

Dalam memoar buku Thomas Raffles disebutkan, Barat harus memastikan bahwa alam Melayu ini lemah. Untuk melemahkan, Raffles mengusulkan dua buah strategi. Pertama, imigran-imigran asing masuk ke Melayu supaya kawasan ini tidak menjadi kawasan Melayu, melainkan majemuk (dibawa orang-orang China dan India). Kedua, pastikan bahwa raja-raja Melayu yakni Semenanjung, Sumatera, Jawa dan sebagainya, tidak mengambil para ulama Arab menjadi penasehat mereka. 

Jadi, tujuan mereka memang untuk memisahkan Arab dengan Melayu. Bersatunya antara Malaysia dan Indonesia membentuk Imperium Islam Melayu inilah yang sangat ditakuti oleh Zionisme. Mereka sadar Melayu adalah potensi kuat dalam membangkitkan Islam dari tenggara Asia, maka itu jalur ini harus dihabisi, apapun caranya. Dan pengalaman bangsa Indonesia yang kerap mudah diadu domba adalah kunci yang selalu mereka pegang saat zaman devide et impera. Yang juga kita harus faham adalah Thomas Stamford Raffles sendiri seorang Freemason.

Th Stevens

Menurut Th Stevens dalam bukunya Tarekat Mason Bebas, Raffles pada tahun 1813 dilantik sebagai mason bebas di bantara “Virtutis et Artis Amici”. “Virtus” merupakan suatu bantara sementara di perkebunan Pondok Gede di Bogor. Perkebunan itu dimiliki Wakil Suhu Agung Nicolaas Engelhard. Di situ Raffles dinaikkan pangkat menjadi ahli (gezel), dan hanya sebulan kemudian dinaikkan menjadi meester (suhu) di loge “De Vriendschap” di Surabaya.

Singapura Modern

Raffles pula yang mendirikan Singapura modern yang kini menjadi basis Israel di Asia Tenggara. Agen-agen zionis melalui Singapura adalah penghasut sebenarnya dalam mengeruhkan hubungan sesama muslim Melayu. Kebanyakan koruptor Indonesia pun bermukim di Singapura setelah merampok uang hasil keringat anak-anak Indonesia dan rakyat jelata. Singapura adalah sekutu zionis. Mereka tidak mau menandatangani perjanjian extradisi dengan Indonesia semata-mata melindungi koruptor ini karena mereka bawa banyak uang ke Singapura. Untuk mengalihkan isu ini dari masyarakat Indonesia, mereka akan coba cari isu supaya masyarakat Indonesia lebih fokus pada isu yang mereka cipta. 

Maka diwujudkanlah isu sekarang, konfrontasi Malaysia-Indonesia. Melalui media sekular di Negara ini, mereka terus berupaya agar rumpun Melayu bangga akan identitas negara-nya masing-masing. Adanya inflitrasi Zionis di Malaysia juga bukan barang baru. Tahun lalu mantan wakil perdana menteri Malaysia yang juga tokoh oposisi, Anwar Ibrahim, pernah membeberkan fakta adanya keberadaan intelijen Zionis di markas kepolisian federal Malaysia. 

Kala itu bersama dengan Kelompok Muslim, mereka menyatakan memiliki dokumen yang memperlihatkan kemungkinan adanya intelijen Zionis kedalam strategi informasi negara lewat perusahaan kontraktor bernama "Osiassov", yang melaksanakan proyek pengembangan sistem komunikasi dan teknologi di markas besar polisi federal Malaysia.

Osiassov

Anwar Ibrahim menjelaskan bahwa perusahaan "Osiassov" terdaftar di Singapura namun berkantor pusat di negara penjajah Zionis Tel Aviv. Menurut Anwar, kehadiran dua mantan perwira tentara Zionis di perusahaan yang bersangkutan, adalah sepengetahuan petugas polisi senior Malaysia dan Menteri Dalam Negeri Malaysia sejak jaman Syed Ahmad Albar. Yakinlah, jika umat muslim Melayu tidak kembali ke ajaran Islam sejati dimana tak ada ruang pada nasionalisme yang memberhalakan bangsa, benih permusuhan itu akan selalu muncul, walau kedua Negara itu makmur dan sama-sama beragama muslim. Maka itu, bersatulah bangsa Melayu. Bersatulah diatas Panji Islam yang akan membuka jalan tegaknya dienullah ini di tanah perjuangan kita, tanah Melayu Darussalam. [vivaforum]

Kategori

Kategori