Showing posts with label Sosok. Show all posts
Showing posts with label Sosok. Show all posts

Fizzy Idrus, Pilot Imut Berhijab Panen Pujian di Sosmed

ACEHXPress.com | Sosok pilot cantik berhijab Air Asia, Noor Hafizah Mohd Idrus tengah menjadi perbincangan di sosial media.
Meski bertubuh mungil, ia cakap dalam mengemudikan pesawat komersial airbus milik AirAsia Malaysia (Air Asia X). Di maskapai asal Negeri Jiran itu, dia menjabat Senior First Officer (Capt) dan bergabung sejak 2006.
Diberitakan mynewshub.cc, Senin 15 Desember 2014, gadis cantik yang sering disapa Fizzy Idrus ini sejak kecil memiliki impian menjadi seorang pilot.
Pilot Imut Berhijab Panen Pujian di Sosmed
Ia masuk Akademi Penerbangan Malaysia pada 2006, sebelumnya dara kelahiran Taiping, Perak, 21 September 1984, kuliah di Universitas Kebangsaan Malaysia, namun memutuskan berhenti.
Pilot Imut Berhijab Panen Pujian di Sosmed
Fizzy yang mengaku masih jomblo tertarik bekerja di Air Asia setelah melihat iklan lowongan pilot di televisi. Tanpa sepengetahuan keluarganya, ia coba melamar dan diterima.
Pilot Imut Berhijab Panen Pujian di Sosmed
Kisah Fizzy menjadi inspirasi bagi banyak remaja wanita. Banyak netizen memujinya bukan karena cantik semata, tapi juga cerdas dan tak pernah tinggalkan salat lima waktu. [Dream]

Ini Rahasia Sukses Najwa Shihab di Dunia Jurnalistik


ACEHXPress.com | Najwa Shihab mengawali karirnya di dunia jurnalistik sebagai reporter lapangan. Kini ia menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi Metro TV. Talkshow Mata Najwa yang dipandunya menjadi program yang paling ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia.

Program tersebut tayang setiap Rabu malam. Di sela-sela persiapan Mata Najwa di Universitas Syiah Kuala malam tadi, Najwa sedikit berkisah mengenai kesuksesannya di bidang jurnalistik.

“Persistensi, kerja keras, dari dulu sejak mulai reporter, produser, eksekutif produser sampai sekarang jadi wakil pemred setiap kali saya ke kantor nggak pernah setengah-setengah, ngotot, mau ngejar narasumber ya harus sampai dapat, mau bahas topik ini yang harus sampai dalam,” ujar Najwa.

Bagi Najwa, dunia jurnalistik merupakan dunia yang sangat dinamis dan memberikan keasyikan tersendiri karena setiap hari ia menemukan hal-hal baru untuk dipelajari.

“Setiap hari bertemu orang baru, bertemu fakta-fakta baru, jadi hidup tidak pernah membosankan. Apalagi negeri ini tidak pernah kehabisan cerita yang menarik,” katanya.[atjehpost.co]

Kowad Cantik Winarsih, Si Manis Juara Bertahan Lomba Menembak se-Asean

Winarsih
AcehXPress.coSertu Korps Wanita TNI AD (Kowad) Winarsih (28) berhasil menyabet 3 medali emas dan 1 perak di turnamen menembak angkatan darat se-Asean. Ia juga berhasil mempertahankan gelarnya sebagai juara umum kelas pistol putri dalam lomba yang digelar di Vietnam pada 11-30 November yang lalu itu.

Sertu Winarsih merupakan salah satu dari 6 Kowad yang masuk dalam kontingen TNI AD pada Asean Armies Riffle Meet (AARM) 2014. Bersama 41 atlet menembak dan 18 pendukung kontingen lainnya, Winarsih melaporkan keberhasilannya kepada KSAD Jenderal Gatot Nurmantyo di Mabes AD, Jl Veteran, Jakpus, Senin (8/12/2014).

"Bangga sekali karena bisa mempertahankan juara umum di kategori pistol putri sebagai Champion Individual," ucap perempuan asal Sragen tersebut usai acara kepada detikcom.

Winarsih yang bertugas di Detasemen Kodam IV/Diponegoro itu meraih emas dalam kategori yang sama pada Turnamen AARM sebelumnya yang digelar di Myanmar. Menurut Winarsih, pesaing terberatnya saat pertandingan adalah prajurit AD wanita dari Thailand.

"Pesaing terberat dari Thailand, tapi dibanding dengan tahun lalu mereka sekarang (kualitasnya) menurun," kata Sertu kelahiran 17 Maret 1985 itu.

Perempuan yang mulai masuk TNI sejak tahun 2005 tersebut mengaku melalukan latihan yang cukup keras bersama rekan-rekan satu timnya untuk mendulang keberhasilan. Kerja kerasnya pun tidak terbuang sia-sia, kontingen TNI AD mendapat 53 medali dan 9 trofi dari 15 trofi yang ada. Mereka berhasil menyabet 29 medali emas dari 45 yang tersedia, 13 perak, dan 11 perunggu serta 9 trofi.

"Persiapan kita latihan uji coba untuk daerah dingin sebelum berangkat di daerah-daerah dingin seperti di Garut dan Pengalengan," ucap Winarsih yang hobi menembak dan renang ini.

Winarsih sendiri sudah menikah sejak tahun 2012 namun hingga saat ini belum mendapatkan momongan karena terpisah jarak dari sang suami yang juga merupakan prajurit TNI. Sang suami, Kapten Inf Yuniar Kusumawardana saat ini berdinas di Yonif 405 Suryakusuma Banyumas. Winarsih pun berpesan untuk para perempuan, khususnya bagi rekan satu profesinya, untuk terus berusaha dan jangan mau kalah dalam segi prestasi dari pria.

"Untuk rekan-rekan, sebagai wanita kita harus tetap wujudkan kalau kita mampu dan bisa, dan kita tidak kalah dari laki-laki. Kita bisa kalau mau berusaha keras. Tapi tetap harus diingat, bahwa wanita adalah wanita," tutup Winarsih yang sempat mendapat kehormatan makan satu meja dengan KSAD karena prestasinya itu. [Det]

Pernah Berlakon Cut Nyak Dhien, Neng Geulis Ini Jadi Cinta Aceh

Ayu Puspa Nanda
AcehXPress.coAyu Puspa Nanda, gadis sunda yang lahir 24 tahun silam memiliki kecintaan tersendiri pada kerajinan khas Aceh. Kecintaannya dengan souvenir khas Aceh bermula ketika Ayu terlibat dalam pementasan teater Tanah Perempuan karya Helvi Tiana Rosa.

Perannya sebagai sebagai salah seorang pejuang tanah rencong, Cut Nyak Dhien, telah memantik dirinya harus mempelajari tentang Aceh dari berbagai hal, mulai dari sejarah, budaya, kerajinan dan bahkan konflik hingga Tsunami.

Di mata gadis ini, Aceh memiliki makna tersendiri, karena ada banyak hal yang unik dan telah menghipnotis orang luar Aceh untuk mengetahui dan mempelajarinya. Baik dari segi budaya, suku, adat, bahasa, bahkan sejarah masa kelam Aceh sekalipun memiliki kisah tersendiri yang menarik untuk dipelajari.

"Rasa penasaran saya tentang Aceh semakin besar, dan terjawab setelah pementasan di Banda Aceh," kisah Ayu pada merdeka.com, Sabtu (6/12) di Banda Aceh.

Gadis kelahiran 13 Oktober 1990 ini pun mengaku tertarik dengan adat dan budaya yang dimiliki oleh provinsi baling barat Indonesia ini. Tidak hanya budaya, kuliner Aceh ikut menyita perhatiannya karena bisa memanjakan lidah siapapun yang mencicipinya.

"Ditambah lagi dengan aturan-aturan agama yang kuat, yang tidak diterapkan di daerah lainnya," tutur gadis Sunda itu sambil tersenyum semringah.

Kecintaannya pada souvenir khas Aceh, hasil kerajinan rajutan puta-putri Aceh seperti tas, dompet perempuan dan lainnya, bukan hanya isapan jempol belaka. Setelah dia menetap di Serambi Mekkah, gadis lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta ini lantas membuka bisnis souvenir Aceh melalui online shop.

Pemasaran pun tidak tanggung-tanggung, Ayu mengaku telah memasarkan produk souvenir Aceh sampai berbagai wilayah Indonesia juga luar negeri menggunakan fasilitas internet dan media sosial.

Ayu menilai sebagai orang luar Aceh, kerajinan khas Aceh ini masih bernyawa, unik dan memiliki nilai jual yang tinggi. Ketertarikannya membuka usaha ini juga karena banyak yang tertarik dengan sentuhan corak dan motif yang ada di setiap souvenir khas daerah Iskandar Muda ini.

"Tiap saya hadiahkan souvenir Aceh saat berkunjung ke Aceh dulu, mereka selalu tanya beli di mana tasnya? Kok bagus! Unik banget! Gak pasaran. Pasti mahal ya?" kenang Ayu menuturkan respon teman-temannya kala itu yang menginspirasinya membuka bisnis souvenir dari Aceh.

Kerajinan khas Aceh inipun dipasarkannya melalui online shop dengan nama @keumalasouvenir. Nama Keumala sendiri diambilnya untuk menampilkan sentuhan Aceh pada para pelanggannya yang berasal dari Medan hingga Papua.

Menjalankan bisnis ini, jelasnya, tidak hanya digunakan sebagai media perantara untuk orang Aceh yang merantau keluar dan rindu kampung halamannya, atau bagi mereka yang belum berkesempatan berkunjung ke Aceh. Namun juga untuk menyadarkan masyarakat Aceh bahwa daerah ini punya banyak hal indah dan menarik untuk dilestarikan.

"Sedikit yang tahu tentang indahnya souvenir Aceh. Orang di sini masih bangga belanja ke Medan, Jakarta, Singapura dan Malaysia demi tas branded berkualitas. Sedangkan orang luar berlomba-lomba memesan tas Aceh tiap harinya," tuturnya. [Merdeka]

Sulian, Sukses Berbisnis Kopi Berawal Dari Hobinya 'Ngopi'

Ian sedang meracik kopi dengan mesin Espresso 
AcehXPress.coLahir dan besar dilingkungan yang ‘gemah ripah loh jinawi’ dengan tanaman kopi, didukung oleh orang tua yang juga berbisnis jual beli kopi, membuat pemuda ini memiliki inisiatif yang besar untuk mengembangkan suatu usaha dengan mengandalkan kopi sebagai bahan dasar.

Pemuda kreatif tersebut bernama Sulian, usianya baru dua puluh tahun saat ini, namun kemampuan dan kecakapannya dalam mengembangkan hobi berbisinis  telah membuatnya terlihat berbeda dengan kebanyakan pemuda seusianya yang pada umumnya masih sibuk bersenang-senang.

Hobi berbisnis ini pula yang membuatnya layak mendapatkan acungan jempol oleh orang-orang yang puluhan tahun lebih tua dari usianya saat ini. “Salut”.  Hanya satu kata itu saja yang terlintas dalam benak penulis ketika pertama kali menjejakkan kaki di tempat usaha ‘Niaga Coffee’ untuk melakukan wawancara langsung dengan pemilik.

Pemuda kelahiran Bener Meriah, pada 10 oktober 1994 silam ini masih berstatus sebagai mahasiswa semester 3 jurusan tata niaga, Politeknik Negri Lhokseumawe. Setelah hampir dua tahun berada diperantauan, pemuda yang akrab dipanggil Ian ini mulai membuktikan kecintaannya pada kopi dan dunia bisnis dikarenakan hobinya 'ngopi'.

Bermodalkan tekad serta semangat yang besar, tepat pada tanggal 10 Oktober 2014 lalu, Ian resmi mendirikan sebuah Cafรฉ kecil dengan sentuhan gaya klasik yang beralamatkan di Jl. Darussalam, no.  22, kampung Jawa Baru, Lhokseumawe.

Cafe mini ini menyediakan menu andalan aneka olahan kopi asli dataran tinggi gayo yang diolah menggunakan mesin Grinder dan Espresso menjadi minuman yang enak  dengan seni barista yang tetap mempertahankan rasa serta karakter kopi. Aneka olahan kopi yang tersedia terdiri dari Espresso, Sanger, Cappucino, Latte, Black hingga Tubruk. Biji kopi yang digunakan juga bermacam-macam, mulai dari Arabica Specialty, Arabica Long Berry, Arabica Tea Berry, Arabica Irawan, Arabica Natural, hingga Luwak Arabica.

Ketika ditanya mengapa memilih kopi sebagai bahan baku utama usahanya, dia menuturkan keinginannya untuk mengembangkan kopi terbaik diasia ini agar lebih banyak dikenal oleh kalangan luas.

“Bagi saya, kopi adalah sumber penghasilan utama masyarakat gayo. Selain itu saya sebagai generasi  gayo harus mampu mengembangkan kopi ini, karena kopi gayo merupakan kopi terbaik di indonesia sekaligus terbaik di asia. Oleh karena itu pula, saya memilih kopi sebagai bahan pokok sekaligus merintis usaha kopi gayo di lhokseumawe ini” ujar putra bungsu dari lima bersaudara  tersebut.

Selain ingin mengenalkan kopi terbaik asia kepada semua kalangan, Ian juga ingin menjadi orang pertama yang terjun langsung dan merintis usaha melestarikan cita rasa asli kopi gayo diluar daerah dataran tinggi gayo. Kopi yang terdapat di Niaga Coffee ini berasal langsung dari kebun organic miliknya, hal ini untuk benar-benar menjaga kemurnian cita rasa alami kopi tanpa campuran bahan lain dalam proses pembuatannya.

Untuk seluruh pemuda dan pemudi Aceh yang memiliki hobi serta cita-cita menjadi pengusaha sejak muda, Ian berharap agar calon pengusaha muda Aceh terus mengasah skill serta kemampuan untuk melakoni bidang bisnis sesuai dengan hobi setiap orang.

“Saya berharap siapapun yang ingin menjadi pengusaha sukses, agar terlebih dahulu menempa skill kemudian sesuaikan hobi dengan bisnis agar lancar dan tidak berat karena telah disesuaikan dengan kemampuan serta hobi masing-masing.” Ujar Ian.

Ian yang sejatinya pecinta hal-hal etnik  berbau classic ini memiliki motto hidup yang sedikit berbeda dengan orang kebanyakan, ‘Berseni hidup jadi indah, berilmu hidup jadi mudah’, begitulah ujarnya dengan ringan mengakhiri wawancara didepan cafรฉ kecil milik pemuda gayo tersebut.

Semoga ada banyak calon pengusaha muda yang mendapatkan inspirasi dan manfaat yang banyak dengan kisah kesuksesan Ian dalam mengembangkan bakat dan menyesuaikan dengan cita-citanya ini.  

Diana Syahputri | Redaktur AcehXpress.com



Mulyati, Kepsek Berprestasi dari Sekolah Miskin

Mulyati
AcehXPress.co| Mengelola sebuah institusi pendidikan tidak mudah. Tantangan datang tidak hanya dari siswa, tetapi juga guru, orangtua dan lingkungan sekitar.
Mulyati memahami betul kondisi ini. Sekolah yang dipimpinnya, SMPN 11 Kota Solo, adalah SMP Plus. Di era kepemimpinan Joko Widodo sebagai Wali Kota Solo, SMPN 11 merupakan sekolah yang dikhususkan menerima anak-anak tidak mampu. Semua siswa di sekolah ini dapat belajar dengan gratis.
"Sebelum ditunjuk jadi sekolah 'plus', SMPN 11 adalah sekolah umum. Setelah menjadi sekolah 'plus', kami harus menerima calon siswa dengan nilai akademis serendah apa pun. Tantangannya adalah sulit mengembangkan sumber daya manusia (SDM)," ungkap Mulyati.
Secara fasilitas, sekolahnya kalah jauh dengan sekolah unggulan. Dari segi input siswa juga setali tiga uang. Namun, wanita kelahiran Wonogiri, 22 Februari 1971 ini tidak patah arang. Dia berfikir di luar kotak dan malah menerapkan ilmu pemasaran untuk mengelola sekolahnya. Kuncinya, kata Mulyati, adalah 4P yaitu product, place, price danpromotion.
Unsur P pertama adalah produk. Dapat dipastikan siswa SMPN 11 kalah saing dengan pelajar sekolah lain karena input akademisnya rendah. P berikutnya adalah place. Lokasi SMPN 11 cukup terisolasi meski berada di dekat kota. Unsur ketiga, yakni price, juga tidak bisa dimanfaatkan karena nilai-nilai siswa sangat rendah.
"Jadi satu hal yang bisa dilakukan adalah mengedepankan promotion.Saya gali potensi anak yang bisa dipromosikan pada masyarakat dengan mengikutkan mereka dalam berbagai kegiatan lomba," imbuhnya.
Guru Terpuji se-Jateng tahun 2011 ini menjelaskan, dia tidak menargetkan kemenangan dalam setiap lomba. Keikutsertaan dalam berbagai kompetisi tersebut adalah memberikan kesempatan kepada murid untuk unjuk diri. Bahkan, Mulyati tidak segan memberi contoh dengan aktif mengikuti berbagai lomba kependidikan.
"Prinsip saya adalah example is leadership, keteladanan adalah kepemimpinan," ujar Mulyati.
Di sekolah, Mulyati membebaskan para guru berinovasi dalam pembelajaran. Nyatanya, sebelum penerapan Kurikulum 2013, Mulyati telah menggunakan multimedia sebagai alat bantu kegiatan belajar mengajar (KBM). Inisiatif Mulyati pun mendapat apresiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai sebuah inovasi pembelajaran.
"Guru di sini berhasil membuat rekaman pendidikan sendiri, tanpa bantuan dari pihak lain," tuturnya.
Selama kepemimpinannya sejak 2012, prestasi akademis dan non akademis di SMPN 11 Solo meningkat. Di sisi lain, kepedulian terhadap sesama juga bertambah melalui nilai-nilai sosial yang ditanamkan Mulyati.
"Prinsipnya adalah, meski dari kalangan tidak mampu kita harus tetap berbagi," jelasnya.
Kepala Sekolah Berprestasi Kota Solo 2012 dan 2013 ini sering mengadakan acara berbagi dengan kaum dhuafa serta menggalakkan zakat dari para guru. Murid yang tidak mampu akan mendapat santunan setiap dua bulan sekali.
Mulyati juga menggerakkan orangtua asuh bagi yatim piatu dengan menggandeng donatur dari Jakarta. Setiap tahun, bantuan datang ke sekolah, Kemudian, bantuan tersebut disalurkan kepada anak yatim piatu yang tidak mampu untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
"Istilahnya, setiap ada kegiatan apa pun saya selalu 'ngamen,'" tutur Mulyati sambil tersenyum.
Dia berprinsip, anak-anak tidak mampu adalah ladang amal. Karena itulah dia memitovasi para guru untuk benar-benar peduli pada anak didik mereka.
Program-program tersebut berpengaruh terhadap status sekolah sebagai SMP Plus. Mulyati bercerita, sejak tahun ajaran lalu, sekolahnya sudah melakukan seleksi umum namun tetap mengutamakan siswa dari kalangan tidak mampu.
Perjuangannya pun berbuah manis. Dia meraih predikat Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional 2014. Gelar ini membuat jerih payahnya selama ini semakin terasa berharga. Meski semua itu harus memulai proses panjang dan penuh perjuangan.
"Sangat luar biasa bagi saya, yang berasal dari sekolah biasa. Bisa bersaing dengan sekolah-sekolah bekas rintisan RSBI atau sekolah berlabel internasional," ungkapnya lagi.
Di Hari Guru Nasional (HGN) ini, Mulyati menitipkan pesan kepada para guru untuk terus belajar. Karena perkembangan ilmu sekarang tanpa diimbangi dengan kemauan guru untuk belajar, hanya omong kosong belaka.

"Jadi prinsipnya, selama guru mau belajar, perubahan apa pun tidak akan pernah membuat mereka (guru) bingung," pesannya. [okezone]

Kategori

Kategori