Showing posts with label Xpresiana. Show all posts
Showing posts with label Xpresiana. Show all posts

Korupsi Adalah Masalah Sosial, Benarkah?

Ilustrasi
XPresiana Sejak pertama kali diberitakan hingga saat ini, korupsi sudah menjadi sesuatu yang tidak asing lagi. Setiap hari dalam berbagai media massa, disajikan kasus-kasus penyelewangan dana yang dilakukan oleh berbagai oknum, mulai dari lembaga eksekutif, legislatif, hingga yudikatif. Tindak korupsi ini mayoritas dilakukan oleh para pejabat tinggi negara yang sesungguhnya dipercaya oleh masyarakat luas untuk memajukan kesejahteraan rakyat, akan tetapi sebaliknya mereka malah merugikan Negara. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan bagi kelangsungan hidup rakyat yang dipimpin oleh para pejabat yang korup. 

Meski sudah seperti kanker yang mengancam nyawa seluruh bangsa, korupsi tidak mudah didefinisikan karena begitu luasnya cakupan korupsi, upaya merumuskan sebuah definisi atau konsep teoritis tentang korupsi ternyata cukup sulit.

Menurut UU No 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas KKN, Korupsi adalah tindak pidana yang dilakukan orang yang secara sengaja melawan hukum. Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain. Perbuatan korupsi selalu mengandung unsur “penyelewengan” atau dis honest (ketidakjujuran). Menurut kamus besar bahasa Indonesia, korupsi adalah tindakan atau perbuatan penyelewengan atau penyalahgunaan uang Negara untuk kepentingan pribadi atau orang lain atau korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara. 

Jika dilihat dari pengertian tersebut jadi korupsi termasuk bagian dari masalah sosial. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa pendapat Parillo (1987), pertama Parillo menyatakan bahwa masalah sosial merupakan masalah yang bertahan untuk suatu periode tertentu. 

Dalam pernyataan tersebut menjadi jelas karena korupsi tidak hanya terjadi pada masa sekarang tetapi sudah terjadi sejak dulu kala. Bahkan sekarang kita sangat sering mendengar pernyataan yang mengatakan korupsi sudah menjadi salah satu aspek kebudayaan kita. Korupsi adalah produk dari sikap hidup suatu kelompok masyarakat, yang memakai uang sebagai standar kebenaran dan sebagai kekuasaan mutlak.

Kedua korupsi juga dirasakan dapat menyebabkan berbagai kerugian fisik atau non-fisik, baik pada individu maupun masyarakat. Disini kita dapat melihat dan mengartikan korupsi sebagai benalu sosial yang merusak sendi-sendi struktur pemerintahan, dan menjadi hambatan paling utama bagi pembangunan. Sebagai akibatnya, kaum koruptor yang kaya raya dan politisi korup yang berlebihan uang bisa masuk ke dalam golongan elite yang berkuasa dan sangat dihormati. Mereka juga menduduki status sosial yang tinggi. 

Disamping itu akibat dari perilaku korupsi dapat mengakibatkan revolusi sosial dan ketimpangan sosial.

Ketiga Korupsi merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai atau standard sosial dari salah satu atau beberapa sendi kehidupan masyarakat. Dalam hal ini sangat jelas bahwa korupsi dapat merusak nilai-nilai, seperti misalnya melanggar nilai agama, adat istiadat dan lain lain. Dalam perspektif agama, korupsi dipandang sebagai suatu perbuatan yang sangat tercela. Dalam perspektif ajaran Islam, korupsi termasuk perbuatan yang merusak kemaslahatan, kemanfaatan hidup, dan tatanan kehidupan. Pelakunya bisa dikategorikan telah melakukan dosa besar. Dalam konteks ajaran Islam yang lebih luas, korupsi merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip keadilan, akuntabilitas, dan tanggung jawab. 

Jadi jelas dari ketiga definisi masalah tersebut korupsi merupakan salah satu masalah sosial yang berkembang didalam suatu kalangan masyarakat. Untuk itu diperlukan suatu tindakan pemecahan masalah yang dapat mengobati gangguan-gangguan merugikan tersebut.

Sebenarnya korupsi bukan suatu sifat yang tidak bisa dihindarkan, cukup banyak langkah dan upaya yang bisa dilakukan agar hal tersebut tidak terjadi pada diri kita. korupsi bukan bawaan sejak lahir ataupun warisan biologis. Tingkah laku kriminal ini bisa dilakukan oleh siapapun juga, baik perempuan maupun laki-laki. Tindak korupsi bisa dilakukan secara sadar yaitu dipikirkan, direncanakan dan diarahkan pada satu maksud tertentu secara sadar benar. Namun bisa juga dilakukan secara setengah sadar misalnya karena terpaksa untuk mempertahankan hidupnya.

Jika dilihat dari hal tersebut jadi korupsi itu terjadi karena ada pertemuan antara tiga faktor utama, yaitu: niat, kesempatan dan kewenangan. Niat adalah unsur setiap tindak pidana yang lebih terkait dengan individu manusia, misalnya perilaku dan nilai-nilai yang dianut oleh seseorang. Kesempatan lebih terkait dengan sistem yang ada. Kewenangan yang dimiliki seseorang akan secara langsung memperkuat kesempatan yang tersedia. 

Persepsi dan Pandangan Masyarakat Terhadap Koruptor

Setuju atau tidak setuju kondisi masyarakat kita masih sangat permisif terhadap para koruptor. Hal ini bisa kita lihat dan diukur dalam sendi kehidupan yang terjadi didalam masyarakat selama ini, masyarakat masih tidak terlalu serius bahkan acuh tak acuh dalam melihat korupsi ini sebagai salah satu masalah sosial di tengah-tengah masyarakat. Pada kenyataannya masih ada yang menganggap para koruptor tersebut tidak murni bersalah, bahkan yang lebih mengherankan ada pihak-pihak ataupun kelompok tertentu yang tetap mendukungnya walaupun sudah menjadi seorang tersangka. 

Padahal kalau kita kaji lebih mendalam peran masyarakat dalam membasmi masalah sosial yang terbesar ini dapat dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Contoh kecil yang bisa dilakukan masyarakat yaitu dengan memberikan sanksi sosial yang berlaku di daerah-daerah tertentu kepada siapa saja yang terindikasi melakukan korupsi. Masyarakat perlu melakukan suatu proteksi sosial terhadap pelaku korupsi misalnya dengan mengucilkannya sehingga dia tidak mendapatkan dukungan lagi dari siapapun. Sanksi sosial ini sangat diperlukan ditengah kondisi bangsa yang sangat krusial seperti sekarang. Peran serta masyarakat dalam membasmi korupsi merupakan suatu formulasi yang dinilai ampuh.

Lebih daripada itu, masyarakat bisa membantu mengurangi tingginya korupsi dengan menolak penyuapan dalam bentuk apapun tidak peduli darimana harta benda tersebut berasal dan siapa yang memberikan. Korupsi bisa dibasmi jika tidak ada yang membantu menyembunyikan hasil yang dicuri dengan dalih bahwa hasil dari korupsi tersebut dibagi-bagikan pada masyarakat banyak.

Tanggung jawab serta besarnya kepedulian masyarakat terhadap tindak korupsi, berguna untuk melakukan partisipasi politik dan kontrol sosial terkait dengan kepentingan publik. 

Tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh. Melakukan kontrol sosial pada setiap kebijakan mulai dari pemerintahan desa hingga ke tingkat pusat. Membuka wawasan seluas luasnya pemahaman tentang penyelenggaraan pemerintahan negara dan aspek-aspek hukumnya. 

Mampu memposisikan diri sebagai subjek pembangunan dan berperan aktif dalam setiap pengambilan keputusan untuk kepentingan masyarakat luas.

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al- sabda NabiBaqarah: 188) Muhammad saw : “Mencari rezeki yang halal adalah wajib setelah kewajiban yang lain.” (HR. Thabrani) “Allah melaknat orang yang menyuap berikut orang yang menerima suap dan menjadi penghubung antara keduanya.” (HR. Imam Ahmad).


Mustafa Kamal, Alumnus Politeknik Negeri Lhokseumawe;
Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara Angkatan 4 (2014). 


XPresiana adalah ruang jurnalisme warga yang disediakan oleh Koran Online ACEHXPRESS.COM - Silakan kirim berita maupun opinimu.

Caranya sangat mudah, klik: Tulis

Gelap yang terang dikemudian hari

Khairil Anwar

AcehXPress.co|Masih segar di ingatan seluruh masyarakat Indonesia tentang apa yang terjadi beberapa hari yang lalu. Masalah yang masih panas di bicarakan dan seakan tak ada habisnya di bahas mengenai kenaikan harga BBM di mana muncul banyak polemic pro dan kontra di Negara ini. Bagi sebagian masyarakat menyikapi masalah tersebut dengan biasa saja serta ada pula yang di sikapi dengan rasa menolak yang teramat sangat.

Mengingat dengan tengah turunnya harga minyak dunia saat ini, keputusan yang di ambil oleh pemimpin negeri ini seakan susah untuk di terima oleh logika. Dengan rendah nya pendapatan perkapita di Indonesia saat ini, seakan kenaikan harga BBM tersebut menambah derita masyarakat menengah kebawah. Walau pun dengan kenaikan harga BBM tersebut yang artinya mengurangi subsidi dari pemerintah itu ditujukan untuk program lainnya seperti di sector pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan yang akrab di sapa dengan 3 kartu sakti itu membawa efek yang penting juga terhadap masyarakt tapi saya merasa kebijakan tersebut seperti kita mengambil suatu jalan pintas yang belum tentu tepat pada sasaran karena sebagaimana kita ketahui BBM merupakan sesuatu yang fital karena dengan naiknya harga tersebut maka mempengarahi lonjakan harga yang lain seperti kebutuhan sandang, pangan, transportasi, dll.

Di tengah carut-marutnya masalah BBM tersebut muncullah suatu guyonan/candaan di media jejeing social seperti sebuah poster presiden soeharto yang seolah menanyakan “ apa kabarmu? Enakan masaku dulu toh”. Ya mungkin secara sekilas itu adalah suatu candaan tapi jika dilihat lebih mendalam kalimat tersebut seolah menjadi tamparan keras untuk pemerintahan saat ini. Bukan bermaksud untuk memandingkan pemerintahan orde baru yang dipimpin oleh soeharto dengan pemerintahan saat ini tapi walau pun terdapat sisi negatif pada pada masa ode baru marilah kita melihat kearah yang lebih positif dimana kehidupan rakyat pada masa tersebut secara ekonomi lebih baik dari pada saat ini, dimana Indonesia mampu mewujudkan swasembada pangan. Tak pelak masyarakat menengah kebawah saat ini menginginkan masa swasembada pangan itu kembali lagi karena mengingat saat ini bahan pangan di pasaran Indonesia telah di serbu oleh produk import.

Dibagian akhir ini tak adil rasanya jika mengkritik tanpa memberi solusi tetang hal yang telah terjadi tersebut. Sejatinya saya sangat mendukung dengan program 3 kartu sakti yang di berlakukan oleh pemerintah tapi di balik itu saya merasa tak seharusnya dana untuk menjalankan program tersebut di ambil dari dana subsidi BBM. Jadi, solusi yang saya tawarkan untuk menanggulangi masalah tersebut adalah alangkah baiknya jika dana yang di ambil untuk menjalankan 3 kartu sakti tersebut diambil dari :

1. Menaikan harga pajak kendaraan karena mengingat dengan banyaknya jumlah kendaraan di Indonesia ini saya rasa sudah saatnya UU tentang perpajakan kendaraan di perbaharui dan solusi tersebut juga sedikit dapat membantu memecahkan masalah kemacetan di beberapa daerah.

2. Menaikan harga bea cukai terhadap rokok dan minuman beralkohol karena secara kalkulasi kesehatan ke-dua barang tersebut kurang bermanfaat.

3. Pemotongan tunjangan dan gaji terhadap pejabat pemerintahan di negeri ini mengingat ini merupakan masalah klasik di negeri ini saya rasa sudah saatnya ini diberlakukan jika benar adanya revolusi mental akan di lakukan.

4. Pembatasan kuota import terhadap bahan pangan, jika kita mampu mencukupi diri sendiri dengan swasembada pangan mengapa harus menadahkan tangan terhadap Negara lain.

Semoga saran yang saya berikan ini dapat dipertimbangkan oleh pemerintahan saat ini.



Penulis : KHAIRIL ANWAR
(Mahasiswa Teknik Elektro Angkatan 2012, Universitas Malikussaleh)





XPresiana adalah ruang jurnalisme warga yang disediakan oleh Koran Online ACEHXPRESS.COM - Silakan kirim berita maupun opinimu.

Caranya sangat mudah, klik: Tulis

Salam Dua Ribu

XPresiana Beberapa tahun yang lalu, saya sempat berbincang dengan seorang kawan mengenai eksistensi perusahaan minyak asing di Indonesia. Kawan saya itu membahas soal ekspansi perusahaan minyak asing yang membuka sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Indonesia.

Dengan harga jual yang saat itu lebih mahal tiga kali lipat dibanding harga premium milik Pertamina, banyak kalangan yang memprediksi usaha SPBU asing akan sia-sia. Terbukti salah satu perusahaan minyak asal negara tetangga mulai tarik diri dari Indonesia.

Namun kawan saya itu yakin, suatu saat usaha bisnis SPBU asing itu akan menuai untung. Saat yang bisa jadi SPBU yang kosong itu akan dipadati pengendara yang mulai beralih dari Pertamina.

Saya pun berkeyakinan harga premium di Indonesia perlahan tapi pasti akan dinaikkan pemerintah. Tapi obrolan saya dengan salah satu kawan itu berujung dengan sebuah perdebatan apakah perusahaan asing itu punya peran atau pengaruh untuk mendorong kenaikan harga BBM?

Saya pribadi tak punya keyakinan ke arah sana. Tapi kawan saya meyakini bahwa pihak asing tak akan begitu saja berani membuka usahanya tanpa pertimbangan dan strategi yang matang.

Sebab bisa dibayangkan apabila harga SPBU asing itu bersaing dengan harga Pertamina, maka ceruk keuntungan besar pun jadi bayaran yang bisa mereka terima. Jadi menurut kawan saya, mau tak mau harus ada pihak yang mendorong kenaikan harga BBM di Indonesia. Usaha yang menurutnya sangat mungkin dilakukan secara tertutup lewat perantara pengamat dan para agen ekonomi neoliberal.

Apa yang diperbincangkan lebih dari lima tahun lalu mulai terbukti kini. Sebulan setelah terjadinya perubahan pemerintahan di Indonesia, perusahaan minyak asing akhirnya bisa tersenyum untuk pertamakalinya. Sebab harga premium di SPBU Pertamina kini meroket dan hanya berselisih sekitar Rp 2000 sampai Rp 3000 dari harga BBM di SPBU asing. Jarak Rp 2000 yang bisa jadi menyentuh ambang psikologis konsumen di Indonesia untuk beralih menggunakan produk BBM asing.

Kini dengan strategi market yang menarik, SPBU asing itu bisa saja membuat masyarakat terpikat. Mungkin dengan tagline kualitas dan jaminan nama besar, perusahaan minyak asing bisa membuat masyarakat tak lagi berhitung selisih yang hanya Rp 2000 dari BBM lokal.

Sebab Rp 2000 faktanya kini menjadi salah satu alat bayar terkecil yang paling sering dikeluarkan masyarakat dari kantongnya. Mulai dari membayar parkir hingga toilet. Sehingga apapun barang yang memiliki jarak harga Rp 2000, maka sejatinya jarak ekonomisnya sangat tipis bagi konsumen.

Pekan ini, tepat beberapa hari setelah Presiden Jokowi pulang dari rangkaian pertemuan dengan pemimpin asing, BBM resmi dinaikkan. Kenaikan yang juga dengan selisih harga Rp 2000. Pihak yang dulunya menolak kenaikan BBM pada era SBY kini sibuk mencari alasan untuk menjilat ludahnya.

Media yang terkenal begitu galak berteriak semasa kenaikan BBM era SBY pun kini ramai-ramai jadi pembela. Sementara aktivis yang "lahir di jalan" akhirnya tertidur lelap di Senayan. Bersama kenaikan BBM, kemunafikan ditebar di mana-mana.

Publik pun jadi bertanya, ke manakah pihak, politisi, atau partai yang mengaku sebagai pejuang wong cilik? Faktanya politik memang selalu sama. Barisan kata bisa diotak-atik sesuai kepentingan. Kata cilik pun bisa berubah jadi licik.

Terlepas dari semua kritik dan perdebatan, Presiden Jokowi menjelaskan bahwa kenaikan BBM bersubsidi tak lebih adalah demi menyelamatkan APBN yang disebutnya sudah dihamburkan. “Pemerintah butuh anggaran infrastruktur, pendidikan, kesehatan tapi anggaran tidak tersedia karena dihamburkan untuk subsisi BBM,” begitu penjelasan Presiden Jokowi.

Percaya atau tidak dengan alasan itu, yang jelas rakyatlah yang kembali akan jadi korban dari kebijakan. Sebaliknya, ada pihak yang kini tersenyum lega melihat kenaikan Rp 2000 harga BBM di Indonesia. Selisih kini tinggal Rp 2000, bung! [rol]

Salam dua ribu......


Penulis: Abdullah Sammy (Wartawan Republika)

XPresiana adalah ruang jurnalisme warga yang disediakan oleh Koran Online ACEHXPRESS.COM - Silakan kirim berita maupun opinimu.

Caranya sangat mudah, klik: Tulis

DPR Terlampau Gaduh, Kapan Kerjanya?

"One of the reasons people hate politics is that truth is rarely a politician's objective. Election and power are."
--Cal Thomas (Jurnalis, 1942-...)



XPresiana DPR gaduh kembali. Kian bising. Setelah pemilihan pimpinan DPR yang berlangsung riuh, pemilihan perangkat kelengkapan lainnya tak kalah ramai—dua buah meja yang tak bersalah digulingkan. Komisi-komisi dikuasai salah satu barisan. Muncullah DPR tandingan.

Dengan pentas politik di parlemen yang riuh rendah seperti itu, mau dibawa kemana institusi DPR? Apa sebenarnya yang dicari para anggota DPR? Saling unjuk gigi untuk menunjukkan siapa yang paling kuat?

Belum lama berselang, mereka dilantik menjadi anggota DPR dengan mengucapkan sumpah. Bunyi sumpah ini begitu mulia: “... akan bekerja dengan sungguh-sungguh ‘demi tegaknya kehidupan demokrasi serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi seseorang dan golongan,” serta “akan memperjuangkan aspirasi rakyat yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan rakyat dan NKRI”.

Esensinya, mereka berada di lembaga DPR adalah untuk mewakili rakyat yang telah memilih mereka di antara sekian calon yang disodorkan oleh partai-partai politik. Ingat: rakyat hanya memilih sebagian dari calon-calon yang sudah disaring oleh partai.

Dua barisan besar politikus yang bersaing, KMP dan KIH, sama-sama mengaku mengusung kepentingan rakyat. Sebagai rakyat, saya bingung, bagaimana mereka bisa berbenturan hingga begitu bising bila sama-sama mengusung kepentingan rakyat? (Maaf atas pertanyaan naif ini, hingga seorang teman bilang, “Ah kamu, seperti nggak ngerti politik saja.”)

Sejauh cernaan saya, kedua barisan ini tidak memiliki ideologi yang jauh berbeda; buktinya, ada yang meloncat ke sana, ada pula yang ke sini. Sepertinya hanya arah angin yang mengubah haluan, persis seperti kata-kata yang diucapkan sejumlah politikus bahwa ‘politik itu dinamis’ (frasa kata yang tak lain eufimisme dari ‘tidak ada musuh atau kawan yang abadi, kepentinganlah yang abadi’).

Berbeda pendapat dan berdebat boleh-boleh saja, dengan argumen yang sehat, tapi tak berarti harus menjadi kisruh berkepanjangan. Lantas kapan kerjanya? Rakyat sudah mengeluarkan banyak uang melalui negara untuk menyelenggarakan pemilihan anggota DPR. Anggaran penyelenggaraan pemilu tahun ini mencapai kira-kira Rp 16 triliun (Antara)—dapatkah Anda membayangkan besarnya angka ini? Sedangkan anggaran untuk pelantikannya (bersama anggota DPD) mencapai Rp 16 miliar. Sangat banyak.

Sayangnya, setelah terpilih dan dilantik, para anggota DPR sibuk menyuarakan perintah (elite) partai dan bertikai dengan begitu bising. Tak bisakah para politikus dari kedua barisan berkomunikasi dengan cara yang lebih baik? Tak mampukah para politikus dari kedua barisan ini menemukan jalan keluar dengan cara yang lebih bermartabat? Bayangkan, alangkah repotnya pemerintahan Jokowi-JK jika harus memilih melakukan rapat kerja dengan salah satu dari dua versi pimpinan dan komisi-komisi DPR.

Sudah waktunya para politikus kembali kepada nalar sehat dan kepada tujuan asasi menjadi anggota DPR, yakni mewakili rakyat dalam merumuskan kebijakan demi tercapainya kebaikan dan kesejahteraan hidup mereka. Berdebat boleh, tapi jangan terlampau gaduh. Kebisingan politik hanya membikin rakyat semakin susah, meski barangkali sangat menarik untuk menjadi bahan skripsi. [indonesiana]

Penulis: Dian Basuki

XPresiana adalah ruang jurnalisme warga yang disediakan oleh Koran Online ACEHXPRESS.COM - Silakan kirim berita maupun opinimu.

Caranya sangat mudah, klik: Tulis

Semua Pihak Harus Tetap Jaga Perdamaian di Aceh

Din Minimi dkk
XPresiana BARU-BARU ini, kita dikejutkan dengan berita adanya sekelompok orang bersenjata api yang mengaku sebagai mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) unjuk diri siap melawan bahkan menghancurkan Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf (Zikir), termasuk dengan cara melumpuhkan perekonomian. Kelompok bersenjata ini dipimpin oleh seseorang yang mengaku bernama Nurdin bin Ismail Amat Alias Abu Minimi.

Menurut Abu Minimi, hal ini dilakukan semata-mata untuk memperjuangkan keadilan karena pemerintahan Zikir dinilai tidak memperhatikan kehidupan yang layak bagi mantan kombatan GAM, tidak memperhatikan kelangsungan pendidikan bagi anak yatim dan janda korban konflik yang hidupnya sangat memprihatinkan. Melihat ketidakadilan ini, Abu Minimi akan terus bergerilya melawan Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Zikir sampai tuntutan mereka dipenuhi.

Meskipun kembali angkat senjata, pihaknya tidak sedang memberontak terhadap Pemerintah Indonesia. Perlawanan mereka hanya ditujukan terhadap Pemerintah Aceh. Karena itu, TNI dan Polri tidak perlu khawatir karena mereka tidak memusuhinya.

Abu Minimi juga mengakui kerap terlibat serangkaian aksi perampokan dan penculikan warga Skotlandia beberapa waktu lalu. Namun pihaknya saat ini sudah sadar, lebih baik melawan Pemerintah Aceh daripada berbuat kriminal untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Menanggapi adanya “perlawanan” tersebut, Kepala Biro Humas Provinsi Aceh, Murthalamuddin menghimbau pihak-pihak tertentu agar tidak merusak perdamaian yang telah dirasakan masyarakat sejak penandatanganan nota kesepahaman di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005 silam.

Diakui atau tidak, perdamaian ini sudah memberi kita banyak kenyamanan, termasuk bagi pekerja media. Oleh karenanya, pihaknya meminta media lebih arif menyikapi hal itu. Situasi di Aceh saat ini sudah aman dan damai.

Dan dalam suasana damai yang sedang dinikmati rakyat Aceh, semestinya tidak ada lagi aksi-aksi yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat. Apalagi aksi-aksi itu disertai dengan pernyataan akan menggunakan senjata api agar keinginannya dipenuhi oleh Pemerintah Aceh. Lebih baik, masalah ini diselesaikan dengan cara-cara yang lebih terhormat daripada membuat resah masyarakat.

Menyikapi masalah ini, seluruh elemen yang ada di Aceh hendaknya tidak terprovokasi oleh aksi yang dilakukan oleh Abu Minimi. Aksi kelompok ini juga sangat rawan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk merusak kedamaian di Aceh. Oleh karena itu, semua pihak termasuk mantan kombatan GAM harus bersinergi dalam upaya menjaga perdamaian Aceh yang sudah berjalan dengan baik. [inilah]

Teuku Fachri; Awanglong 50, Kota Samarinda - Kalimantan Timur


***

XPresiana adalah ruang jurnalisme warga yang disediakan oleh Koran Online ACEHXPRESS.COM - Silakan kirim berita maupun opinimu.

Caranya sangat mudah, klik: Tulis
Surat Terbuka Kepada Gubernur dan Kapolda Aceh

Surat Terbuka Kepada Gubernur dan Kapolda Aceh


XPresiana Melihat dan mencermati banyaknya kenderaan berotor plat non-BL (khususnya BK)yang beroperasi di wilayah Aceh, maka sungguh ironis dan merugikan Aceh dari segi Pendapatan Asli Daerah(PAD), dimana penggunanya orang Aceh, bisnis/kerja di Aceh, jalan-jalan di Aceh dan tinggal di Aceh, sementara bayar pajak kenderaan keluar Aceh khususnya Sumatera Utara (Sumut).
Ada anggapan bahwa sulitnya menggunakan plat BL bila berada di wilayah Sumut diantaranya adanya razia oleh polisi Sumut yang mencari-cari kesalahan (irrasional error), mudahnya transaksi jual beli kenderaan bermotor dengan plat BK, harga yang murah dan berbagai kemudahan lainnya membuat warga  Aceh beralih ke plat BK.
Bila kita cermati mengapa polisi Sumut berani melakukan diskriminasi terhadap pengguna plat BL di wilayah Sumut, sementara plat BK bebas berlalu lalang di Aceh yang notabenenya orang Aceh sendiri ?.
Oleh karena itu, yang terhormat bapak Gubernur Aceh dan Kapolda Aceh, harus segera membuat suatu terobosan/kebijakan yang  tepat-cepat-mudah-komprihensif-dan terukur, yang melibatkan seluruh pemangku jabatan/kepentingan di Aceh, sekaligus mengambil tindakan keras dan tegas (crackdown) terhadap semua kenderaan khususnya plat BK yang beroperasi di Aceh ; adanya razia rutin kelengkapan surat kenderaan bermotor, aturan berlalu lintas, parkir di area terlarang/salah parkir, kelengkapan kotak P3K, tabung pemadam kebakaran, palang segitiga darurat, dan hal-hal lain yang dianggap perlu guna menertibkan ruang gerak plat non-BL yang beroperasi di Aceh. Sehingga pengguna yang notabenenya orang Aceh diharapkan dapat segera memutasi plat non-BL ke BL dengan penuh kenyamanan/keamanan dan berdaya saing.
Himbauan  bukan suatu solusi yang tepat dan cepat untuk saat ini di Aceh terhadap persoalan tersebut. Adanya wacana Pemerintah Aceh dan DPRA untuk menurunkan Biaya Balik Nama Kenderaan Bermotor (BBNKB) di Aceh dari 13% menjadi 10% di akhir tahun 2014 ini ditanggapi positif  oleh berbagai pihak di Aceh guna mendorong peningkatan nilai transaksi otomotif yang dapat menumbuhkan perekonomian dan PAD Aceh…semoga.! [tgj]

Oleh: Musliadi Penulis merupakan warga Aceh tinggal dan bekerja di Rumah Sakit Pemerintah Kuwait.

***

XPresiana adalah ruang jurnalisme warga yang disediakan oleh Koran Online ACEHXPRESS.COM - Silakan kirim berita maupun opinimu.

Caranya sangat mudah, klik: Tulis

Kategori

Kategori