Aroma Dendeng Juwariyah Harumkan Aceh

Dendeng Juwariyah
AcehXPress.coAROMA daging segar bercampur aneka rempah menyambar penciuman setiba di dapur dendeng khas Aceh Rayeuk. Jemari itu terlihat cekatan melumuri irisan daging segar dengan ramuan resep rahasia keluarga dan menjadikannya gunungan irisan.

Di sudut lain, bakal dendeng ikan dan dendeng sapi serta rusa dijemur berjejer, tumpuk menumpuk antara satu ancak dengan ancak yang lain. Irisan daging yang mulai mengering itu terpaksa diangin-anginkan saja lantaran sejak memasuki musim penghujan langit bagai tak henti mencurahkan airnya ke bumi.

Aroma yang ditebarkan dari dapur dendeng yang berlokasi di Desa Payaroh Kecamatan Darul Imarah itu telah mengharumkan nama Aceh melalui mulut milik para wisatawan yang memboyongnya sebagai buah tangan.

Ya, Banda Aceh sebagai potret kota urban yang luluh lantak usai diamuk tsunami kini semakin bersolek. Sektor pariwisata yang coba dihidupkan pemerintah menggeliatkan sektor industri dengan kedatangan turis lokal dan manca negara. Peluang itu ditangkap oleh Juwariyah (30) yang pertama kali mencetuskan usaha dendeng sebagai Industri Rumah Tangga (IRT) keluarga itu pada 2010 silam.

Berawal dari permintaan pemilik rumah makan, akhirnya selain mengelola beberapa kafe yang tersebar di Aceh, keluarga itu lantas melebarkan sayap bisnisnya menggeluti olahan daging dan ikan. Memperkaya khazanah industri kuliner dan tentu saja menggemukkan pundi-pundi keluarga.

“Kami mengolah dendeng khas Aceh Rayuek yang dikenal kaya rempah. Daging didatangkan dari Medan dan Takengon sedangkan ikan dipasok dari Lampulo. Untuk produksinya disesuaikan dengan pesanan,” ujar Hasanuddin (24), adik Juwariyah tatkala Serambi turun  langsung menyambangi dapur dendeng miliknya, Rabu (24/9).

Untuk harga cukup bervariatif tergantung berat dan jenis dendeng. Dendeng sapi tersedia dengan berat 1/2 kg dan 1/4 kg dihargai masing-masing Rp 55.000 dan Rp 110.000. Sedangkan dendeng rusa dan ikan dijual khusus ukuran 1/4 kg dan dilepas dengan harga masing-masing Rp 90.000 dan Rp 35.000. 

Untuk pemasaran, dendeng keluarga ini tersebar di rumah makan dan toko-toko sovenir di Aceh Besar dan Banda Aceh. Selain lebaran dan perhelatan lainnya, Hasanuddin bersaudara bisa meraup keuntungan hingga Rp 25 juta per bulan. Angka yang cukup fantastis sekaligus menggiurkan untuk sebuah kerja sampingan.

Ia dibantu dua orang adiknya Ani (24) dan Yuni (22) yang mewarisi darah bisnis dari orangtuanya adalah lulusan SMA. Hasanuddin mengaku tertarik menggeluti bisnis kuliner karena menurutnya prospeknya menjanjikan. Mereka terus berinovasi melahirkan varian baru dari dendeng dengan tetap menjaga keaslian rasa. Menjelang lebaran seperti sekarang, keluarga itu mengaku kebanjiran pesanan lantaran ibukota Aceh ini akan diramaikan oleh warganya yang pulang mudik yang juga membawa para pendatang.

“Cuma karena lebaran Idul Adha atau yang akrab disebut lebaran Haji berada di musim penghujan, kami terpaksa bekerja dengan mengejar matahari yang dibantu tenaga oven guna mengeringkan irisan-irisan daging segar berempah itu. Dendeng bisa awet hingga sepuluh bulan karena memang sudah kering benar,” ulas Hasanuddin.

Proses pembuatannya terbilang sederhana, ramuan rempah yang terdiri atas ketumbar, jahe, dan lengkuas dicampur dengan gula pasir untuk efek gurih. Ramuan andalan itu lantas dilumurkan ke daging atau ikan yang sudah di iris tipis untuk kemudian direndam semalaman. Usai perendaman, bakal dendeng memasuki tahap pengeringan yang memakan waktu 2-3 hari, tergantung cuaca. Tahap terakhir dan tak terlupakan adalah pengemasan yang meninggalkan kesan sekaligus mengharumkan dendeng Aceh kemana mana. [Serambi Indonesia]


EmoticonEmoticon